Published On: Tue, Mar 1st, 2016

Tripitaka (Bagian 2)

TripitakaKitab suci yang dewasa ini dipakai dalam agama Buddha ditemukan dalam bahasa Pali dan bahasa Sanskerta. Nama umum yang diberikan untuk kumpulan kitab suci agama Buddha adalah Tripitaka. “Tri “ berarti “tiga “ dan “pitaka “ berarti “keranjang “ atau biasa diartikan sebagai “kumpulan “. Tripitaka dengan demikian adalah “ Tiga Keranjang “ atau “Tiga Kumpulan”, terdiri dari:

1. Vinaya Pitaka atau Kumpulan Disiplin Vihara.

2. Sutta/Sutra Pitaka atau Kumpulan Ceramah/Dialog.

3. Abhidhamma/Abhidharma Pitaka atau Kumpulan Doktrin Yang Lebih Tinggi, hasil susunan sistematis dan analisis skolastik dari bahan-bahan yang ditemukan dalam Sutta/Sutra Pitaka.

1. Tipitaka Pali

Tipitaka Pali (45 jilid) memiliki pembagian sebagai berikut:

Vinaya Pitaka:

1. Parajika

2. Pacittiya

3. Mahavagga

4. Culavagga

5. Parivara

Sutta Pitaka:

1. Digha Nikaya

2. Majjhima Nikaya

3. Samyutta Nikaya

4. Anguttara Nikaya

5. Khuddaka Nikaya

Abhidhamma Pitaka:

1. Dhammasangani

2. Vibhanga

3. Dhatukatha

4. Puggalapannatti

5. Kathavatthu

6. Yamaka

7. Patthana

2. Mahapitaka (Tripitaka Mahayana)

  Mahapitaka (Ta Chang Cing) terdiri dari 100 buku dengan pembagian sebagai berikut :

1. Agama

2. Jataka

3. Prajnaparamita

4. Saddharma Pundarika

5. Vaipulya

6. Ratnakuta

7. Parinirvana

8. Mahasannipata

9. Kumpulan Sutra

10. Tantra

11. Vinaya

12. Penjelasan Sutra

13. Abhidharma

14. Madhyamika

15. Yogacara

16. Sastra

17. Komentar Sutra

18. Komentar Vinaya

19. Komentar Sastra

20. Sekte

21. Aneka Sekte

22. Sejarah

23. Kamus

24. Daftar Isi

25. Komentar Sutra Lanjutan

26. Komentar Vinaya Lanjutan

27. Komentar Sastra Lanjutan

28. Aneka Sekte Lanjutan

Sutra-sutra dari kaum Theravada juga terdapat dalam Tripitaka Mahayana dengan sebutan Agama Sutra (A Han Cing). Agama Sutra sebagian besar isinya tidak berbeda dengan apa yang terdapat di Nikaya Pali. Agama Sutra ini terdiri dari :

1. Dhirghagama

2. Mdhyamagama

3. Samyuktagama

4. Ekottarikagama

  Dalam Tripitaka Mahayana terdapat pula tujuh kitab Abhidharma dari golongan Sarvastivada (berbeda dengan Abhidhamma Pali), yaitu :

1. Jnanaprasthana

2. Samgitiprayaya

3. Prakaranapada

4. Vijnanakayasya

5. Dhatukaya

6. Dharmaskandha

7. Prajnaptisastra

3. Kangjur dan Tangjur (Tibetan Tripitaka)

Disamping sutra-sutra  Mahayana dan Theravada yang diambil sebagai kitab pokok dalam aliran Buddhisme Tibet (Tantrayana/Vajrayana), mereka juga memiliki Kitab Kangjur dan Tangjur . Kitab Kangjur (Bka’-‘gyur, yang berarti Terjemahan Sabda Sang Buddha) berisi 108 jilid merupakan deskripsi Ajaran Sang Buddha, sedangkan Tanjur (Bstan-‘gyur, yang berarti Terjemahan Ajaran Sang Buddha) berisi 227 jilid merupakan komentar dari teks dasar.

Kangjur memiliki 6 bagian utama yang berisi (1) Tantra (2) Prajnaparamita Sutra (3) Ratnakuta Sutra yang merupakan kumpulan naskah pelengkap Mahayana (4) Avatamsaka Sutra (5) Berbagai Sutra Mahayana dan Hinayana , dan (6) Vinaya.

Sedangkan Tanjur yang dapat dibagi menjadi 3.526 naskah dapat dibagi atas tiga kelompok utama, yaitu (1) stotras ; pujian agung dalam satu jilid termasuk 64 naskah (2) Ulasan tantra dalam 86 jilid termasuk 3.055 naskah, dan (3) Ulasan sutra-sutra dalam 137 jilid termasuk 567 naskah.

Naskah-naskah terjemahan dalam bahasa Tibet tersebut merupakan naskah peninggalan yang sangat penting setelah terdapat cukup banyak naskah di India dibakar habis oleh invasi agama lain  di India.

Sekilas Pandang Tipitaka

Vinaya Pitaka

Vinaya Pitaka merupakan suatu kumpulan Tata Tertib dan Peraturan Cara Hidup yang ditetapkan untuk mengatur murid-murid Sang Buddha yang telah diangkat sebagai bhikkhu atau bhikkhuni ke dalam Sangha. Peraturan-peraturan ini berupa himbauan dari Sang Buddha dengan tujuan agar mereka menguasai dan mengendalikan perbuatan jasmani dan ucapan mereka. Kitab ini juga menyangkut hal-hal mengenai pelanggaran peraturan; terdapat berbagai jenis peringatan dan usaha pengendalian sesuai dengan sifat pelanggaran yang dilakukan.

Secara umum Vinaya Pitaka dapat dibagi atas :

(1) Sutta Vibhanga

  Bagian yang berhubungan dengan Pratimoksa/Patimokha yaitu peraturan-peraturan untuk para bhikkhu/Bhiksu (227 peraturan) dan bhikkhuni/Bhiksuni (311 peraturan).

(2) Khandaka-khandaka

Terdiri dari Mahavagga dan Cullavagga. Mahavagga merupakan serangkaian peraturan mengenai upacara penahbisan bhikkhu, upacara Uposatha, peraturan tentang tempat tinggal selama musim hujan [vassa], upacara pada akhir vassa [pavarana], peraturan mengenai jubah, peralatan, obat-obatan dan makanan, pemberian jubah Khatina setiap tahun, peraturan bagi bhikhu yang sakit, peraturan tentang tidur, tentang bahan jubah, tata cara melaksanakan sanghakamma (upacara sangha), dan tata cara dalam hal terjadi perpecahan.

Cullavagga, terdiri dari peraturan untuk menangani pelanggaran-pelanggaran, tata cara penerimaan kembali seorang bhikkhu ke dalam sangha setelah melakukan pembersihan atas pelanggarannya, tata cara untuk menangani masalah-masalah yang timbul, berbagai peraturan yang mengatur cara mandi, mengenakan jubah, menggunakan tempat tinggal, peralatan, tempat bermalam dan sebagainya, mengenai perpecahan kelompok-kelompok bhikkhu, kewajiban guru [acariya] dan calon bhikkhu [samanera], upacara pembacaan Patimokkha, penahbisan dan bimbingan bagi bhikkhuni, kisah mengenai Pasamu Agung Pertama di Rajagraha, dan kisah mengenai Pesamuan Agung Kedua di Vesali.

(3) Parivara,

  Merupakan suatu ringkasan dan pengelompokan peraturan-peraturan Vinaya yang tersusun dalam bentuk tanyajawab untuk dipergunakan dalam pengajaran dan ujian.

Dalam Buddhisme Mahayana juga terdapat Brahmajala Sutra [Fan Wang Cing] yang dipergunakan sebagai pedoman untuk menerangkan sila, pratimoksha dan Bodhisattva sila dimana terdiri dari 10 pasal kesalahan besar [Garukapatti] dan 48 pasal kesalahan kecil [Lahukapatti]. Brahmajala Sutra yang dipakai oleh Buddhisme Mahayana merupakan terjemahan dari Kumarajiva antara tahun 401 – 409 M. Selain itu terdapat juga Upasika Sila yang merupakan terjemahan dari Dharmaraksa antara tahun 414-421 M. Untuk Bhiksuni, terdapat juga Bhiksuni Sanghika Vinaya Pratimoksha Sutra yang diterjemahkan oleh I-Ching pada tahun 700-711 M dimana terdiri atas 348 pasal.

Sutra Pitaka [Sutta Pitaka]

Merupakan kumpulan pem-bicaraan antara Sang Buddha dengan berbagai kalangan, semasa Beliau mengembangkan ajaranNya. Sutra Pitaka dapat dikelompokkan dalam lima kelompok utama, yaitu :

Digha Nikaya (kumpulan sutra yang isinya panjang),

Majjhima Nikaya (kumpulan sutra yang isinya tidak terlalu panjang),

Samyutta Nikaya (kumpulan sutra yang isinya secara kelompok),

Anguttara Nikaya (kumpulan sutra atas beberapa topik utama),

Khuddaka Nikaya (kumpulan sutra dari berbagai bahan).

  Selain itu dalam Buddhisme Mahayana masih terdapat banyak sutra lainnya yang diperkirakan sekitar 300 sutra, dimana terdapat beberapa yang tersusun sesudah Parinirvana Sang Buddha. Sutra-sutra yang kebanyakan berasal dari bahasa Sansekerta telah berhasil diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa saat ini berkat jasa-jasa dari para sesepuh Mahayana, seperti Kashyapamatanga dan Mdian Dharmaraksha, Tao-an, Kumarajiva, Siksananda, Buddhabhadra, Buddhajiva, Buddhayasas, Bodhiruci,  Bhodiyasa,  Gunabadra,  Dhamakshema, Punyatara, Paramartha,  I-ching,  Fa-hsien, Hsuan-tsang, Subhakarasinha, Divakara, dan lain-lain. Kebanyakan sutra yang diterjemahkan pada awalnya ke dalam bahasa Mandarin tersebut dibawa dari India ataupun Srilanka melalui jalan darat yang dikenal sebagai Jalan Sutra (Silk Road). Sekarang sutra-sutra tersebut sudah ada dalam berbagai bahasa khususnya bahasa Tibet, Jepang, Korea, Vietnam dan malahan terdapat banyak sutra yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Perancis, dan Belanda.

  Di Indonesia, pada jaman kejayaan Sriwijaya dalam masa keprabuan Syailendra (sekarang Palembang, Sumatera), telah tercatat dalam sejarah sebagai pusat pendidikan Agama Buddha Mahayana dimana terdapat seorang guru agama Buddha yang terkenal bernama Sakyakirti (Dharmakirti). Demikian juga di tanah Jawa dimana sempat juga didatangi oleh beberapa tokoh yang terkenal dalam sejarah perkembangan Buddhisme dengan berbagai peninggalan sejarahnya seperti candi Borobudur, Mendut, Pawon dan lain-lain. Bhiksu Fa-hsien dari Cina pada tahun 414 M sempat tinggal selama lima bulan di Ho-ling (Jawa) yang sesuai catatannya bahwa di Jawa telah menerima agama Buddha yang beraliran Hinayana. Setelah itu Gunawarman dari Kashmir yang datang ke Jawa pada sekitar tahun 421 M. Bhiksu lainnya dari Cina, Hui-ning juga pernah ke Jawa pada sekitar tahun 664 M dan sempat tinggal selama tiga tahun. I-ching sempat dua kali ke Sriwijaya dimana pada tahun 685 M sempat tinggal selama empat tahun untuk menyelesaikan tugasnya menerjemahkan berbagai kitab dari bahasa Sansekerta ke bahasa Mandarin. Atisa (hidup tahun 982-1054) dari keluarga bangsawan Bengala yang menjadi Bhiksu pernah datang ke Sriwijaya untuk belajar filsafat dan logika agama Buddha Mahayana selama 12 tahun (antara tahun 1011-1023) dibawah bimbingan guru besar Sakyakirti (Dharmakirti).

  Beberapa sutra dalam Mahayana yang dianggap sangat penting, antara lain:

-Avatamsaka Sutra (Hua Yen Cing)

-Maha Ratnakuta Sutra (Ta Pao Ci

Cing)

-Maha Sanghata Sutra (Ta Ci Cing)

-Astasahasrika Prajnaparamita Sutra

(Pa Chien Sung Phan Jo Cing)

-Maha Prajnaparamita Sutra (Ta Phan

Jo Cing)

-Prajnaparamita Hrdaya Sutra (Sim

Cing)

Saddharma Pundarika Sutra (Fa

Hua Cing)

Mahaparinirvana Sutra (Ta Ch’eng

Nie Phan Cing)

-Surangama Sutra (Leng Yeng Cing Ta

Fo Ting Shuo Leng Yeng Cing)

-Amitabha Sutra (O Mi Tho Cing)

-Sukhavati Vyuha Sutra (Wu Liang

Shuo Cing / Fo Shuo A Mi Tho Cing)

-Amitayur Dhyana Sutra (Kuang Wu

Liang Shuo Cing)

-Vaipulya-mahavyuha Sutra (Ta Cuang

Yen Cing)

-Vimalakirti Nirdesa Sutra (Wei Mo

Cing)

-Suvarnaprabhasa Sutra (Cin Kuang

Ming Cui Sen Wang Cing),

-Lankavatara Sutra (Leng Cia Cing)

-Sandhi Nirmocana Vyuha Sutra (Cie

Sen Mi Cing)

-Vajrachedika-prajna-paramita Sutra

(Cin Kang Cing)

-Mahavairocanabhi-sambhodi Sutra

(Ta Re Ru Lai Cing)

-Lalita Vistara Sutra (P’u Yao Cing)

-Suvarna Prabhasa Sutra (Cin Kuang

Ming Cui Sen Wang Cing)

-Dasabhumika Sutra (Se’ Ti Cing)

-Mahayana Buddha Pacchimovada

Pari Nirvana Sutra (I Chia Yu Cing)

-Brahmajala Sutra (Fan Wang Cing)

-Dasa Kausalya Karma Sutra (Se’ San

Ye Tao Cing)

-Maha Samnipata Sutra (Ta Chi Cing)

-Tathagatagarbha Sutra (Ta Fang Teng

Ju Lai Tsang Cing)

-Yogacarabhumi Sutra / Dharmatara

Dhayna Sutra (Ta Mo To Lo Ch’an

Cing)

-Bhaishajyaguru Vaiduryaprabha

Tathagata Sutra (Yo Shi Liu Li Kuang

Ju Lai Pen Yuan Khung Te Cing)

-Sanmukhi Dharani Sutra (Liu Men To

Lo Ni Cing)

-Sutra Hui Neng atau Sutra Altar (Liu

Cu Than Cing)

-Ksitigarbha Bodhisattva Sutra (Ti

Chang Phu Sat Pen Yuan Cing)

-Bodhisattva Treasury Sutra (Phu Sat

Tsang Cing)

Abhidharma Pitaka [Abhidhamma Pitaka]

Merupakan kumpulan ber-dasarkan klasifikasi yang detail mengenai fenomena kejiwaan, logika, analisa metafisik dan informasi penting dari kosa kata. Kitab Abhidhamma dapat juga disebut sebagai ilmu psikologi Buddhisme yang mengajarkan analisis yang mendalam mengenai berbagai komponen dan proses dari batin dan jasmani.

Abhidhamma Pitaka sesuai uraian dari kaum Sthaviravada (Pali canon) dapat diuraikan menjadi tujuh jilid buku [pakarana], yaitu :

a. Dhammasangani, menguraikan mengenai etika dilihat dari sudut pandang ilmu jiwa

b. Vibhanga, menguraikan apa yang terdapat dalam buku Dhammasangani dengan metode yang berbeda. Buku ini dapat dibagi lagi dalam delapan bab [vibhanga], dan masing-masing bab memiliki tiga bagian yaitu Suttantabhajaniya, Abhidhammabhajaniya dan Pannapucchaka atau daftar pertanyaan-pertanyaan.

c. Dhatukatha, menguraikan mengenai unsur-unsur batin yang terbagi atas empat belas bagian.

d. Puggalapannatti, menguraikan berbagai watak manusia [puggala] yang terkelompok dalam sepuluh urutan kelompok.

e. Kathavatthu, terdiri dari dua puluh tiga bab yang merupakan kumpulan percakapan [katha] dan sanggahan terhadap pandangan salah yang dikemukan oleh berbagai sekte tentang hal-hal yang berhubungan dengan theologi dan metafisika.

f. Yamaka, terdiri dari sepuluh bab [yamaka], yaitu Mula, Khanda, Ayatana, Dhatu, Sacca, Sankhara, Anusaya, Citta, Dhamma dan Indriya.

g. Patthana, menerangkan mengenai sebab-sebab yang berkenaan dengan dua puluh empat hubungan antara batin dan jasmani [Paccaya].

Abhidharma Pitaka dari kaum Sarvastivada (Sansekerta) dapat dikelompokkan dalam tujuh kitab, yaitu:

a. Jnana-prasthana,

b. Sangitiparyaya,

c. Prakaranapada,

d. Vijnanakayasya,

e. Dhatukaya,

f. Dharmaskandha,

g. Prajnaptisastra.

Disamping itu terdapat juga beberapa kitab komentarnya, seperti Abhidhamma Maha Vaibasha Sastra dan Abhidhamma Kosa Sastra. Demikian juga yang ditulis oleh kaum Madhyamika, antara lain Madhyamika Karika, Dwi-dasa-Sastra, Sata Sastra. Asanga dari kaum Vijanavada yang dikenal dengan Yogacara menyusun beberapa karyanya yang berhubungan dengan Abhidhamma, yaitu : Saptadasabhumi Sastra Yoga-caryabhumi, Sutralankara- Tika, Madhyatavibhaga Sastra Grantha, Vajracheda Sutra Sastra, Yogavibhaga Sastra dan Mahayanasamparigraha Sastra. Vasubandhu juga menulis beberapa kitab yang berhubungan dengan Abhidhamma, yaitu : Vidyama-trasiddhi, Pancaskandhaka Sastra, Vidyamatrasiddhi Tridasa Sastra Karika, Karma- siddhaprakarana Sastra, Dasabhumika Sastra, Gayasirsha Sutra Tika dan Saddharmapundarika Sutra Upadesa.

  Keahlian seseorang dalam menguasai berbagai kitab suci yang ada dalam Buddhisme bukanlah sebagai jaminan akan memperoleh manfaat kehidupan suci, tetapi yang penting adalah berbuat sesuai ajaran dalam kehidupan sehari-hari baik melalui pikiran, ucapan ataupun perbuatan.

Sang Buddha bersabda : “Biarpun seseorang banyak membaca kitab suci, tetapi tidak berbuat sesuai dengan ajaran, maka orang lengah itu sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain; ia tak akan memperoleh manfaat kehidupan suci. Biarpun seseorang sedikit membaca kitab suci, tetapi berbuat sesuai ajaran, menyingkirkan nafsu indria, kebencian dan ketidaktahuan, memiliki pengetahuan benar dan batin yang bebas dari nafsu, tidak melekat pada apapun baik di sini maupun di sana, maka ia akan memperoleh manfaat kehidupan suci.” (Dhammapada, 19, 20)

Ketika kita menyatakan berlindung kepada Dharma (Dhammang Saranang Gacchami) berarti kita harus memiliki pengertian yang benar terhadap Ajaran Sang Buddha dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari secara bijaksana.

Sekilas Sekte Tien-Tai dan Nichiren Shu

Sekte Tien-tai di China, adalah salah satu sekte dari aliran Mahayana yang terkemuka. Sekte Tien-tai didirikan oleh Bhiksu Ce Khai (531-597SM), Beliau juga disebut Chih-i atau Chih-ce atau juga Mahaguru Thien-Tai (T’ien-t’ai). Sekte ini berpedoman pada Saddharma Pundarika Sutra (Fa Hua Cing – Myo Ho Ren Ge Kyo), Amitartha Sutra (Wu Liang I Cing) dan Nirvana Sutra (Nie Phan Cing). Teori yang terkenal dari Sekte ini adalah Tentang Tiga Ribu Alam dalam Sekejap Jiwa (Icinen Sanzen). Mahaguru lain yang terkenal adalah Mahaguru Miao-Lo, pemimpin ke-enam (jika Chih-I dihitung sebagai yang pertama, kesembilan jika Nagarjuna dihitung sebagai yang pertama). Chan-Jan (Miao-Lo) menghidupkan kembali sekte Tien-t’ai yang sempat mengalami kemunduran. Beliau menulis tiga penjelasan tentang karya Chih-i yang terkenal yakni: “Keterangan mengenai kata dan kalimat dari Saddharma Pundarika Sutra, Penjelasan tentang Makna mendalam dari Saddharma Pundarika Sutra, dan Keterangan mengenai Pemahaman dan Konsentrasi Agung.”

Sekte Tien-t’ai kemudian dibawa oleh Bhiksu Saicho ke Jepang (Sekte Tendai). Ia menjadi bhiksu pada usia 19 tahun 785 dan kemudian pindah ke Gunung Hiei. Disana Beliau menghabiskan waktunya untuk mempelajari karya-karya dari Mahaguru Chih-I. Tahun 804, Ia dikirim oleh kerajaan ke China beserta muridnya Gishin. Disana selama sembilan bulan, Beliau mempelajari Buddhisme Tien-T”ai bersama Tao-sui, pemimpin ke tujuh, dan Hsing Man, yang juga merupakan murid langsung dari Chan-jan. Setelah meninggalnya Saicho (822), Gishin menjadi penerusnya dan pemimpin ke dua Sekte Tendai di Jepang. Pada tahun 823, Kaisar Saga memberikan nama baru kepada Kuil di Gunung Hiei, Engryaku-Ji. Pada tahun 866, Kaisar Seiwa menganugerahkan nama Dengyo Daishi kepada Saicho. Setelah meninggalnya Mahaguru Dengyo, ajaran sekte Tendai di Jepang mulai tercampur aduk, sehingga tidak terkosentrasi pada Saddharma Pundarika Sutra lagi, bahkan mengadopsi ajaran Eksoterik dan lain-lain.

Nichiren Shonin, pada usia 15 tahun telah masuk kebhiksuan, Beliau belajar di Kuil Seicho-Ji, sebuah kuil aliran Tendai dan dibimbing dibawa Bhiksu Dozen, kepala kuil tersebut. Setelah belajar di Seicho-Ji, Beliau melanjutkan pelajarannya di Hachimangu-Ji. Kuil ini mempunyai hubungan dengan Kuil Onjo-ji di propinsi yang sama. Sedangkan Kuil Onjo-ji berkiblat ke Kuil Enryaku-Ji di Gunung Hiei. Pada tahun 1241, Nichiren Shonin pergi ke Kuil Enryaku-Ji untuk melanjutkan pendidikannya. Kuil ini adalah pusat Sekte Tendai di Jepang. Sekte ini juga dikenal sebagai Hokke Shu atau Sekte Saddharma Pundarika Sutra. Setelah belajar bertahun-tahun tentang semua ajaran Buddha dari satu kuil ke kuil yang lain bahkan Nichiren Shonin juga belajar sastra Kong Fu Cu dan lain-lain, Beliau mencapai sebuah kesimpulan bahwa Ajaran yang seharusnya dibabarkan dan disebarluaskan serta dipuja pada masa Akhir Dharma adalah Saddharma Pundarika Sutra. Nichiren Shonin mengajarkan pemujaan terhadap judul dari Saddharma Pundarika Sutra (O’daimoku) “Namu Myoho Renge Kyo.” Nichiren Shonin pertama kali menyebut O’daimoku dan mendirikan sekte Nichiren Shu pada tanggal 28 April 1253. Nichiren Shonin juga mewujudkan Maha Mandala berdasarkan ajaran tersirat Saddharma Pundarika Sutra dan digunakan sebagai objek pemujaan bagi seluruh umat manusia. Pusat dari sekte Nichiren Shu adalah Kuil Kuon-Ji, Gunung Minobu. Saat sekarang Nichiren Shu telah berkembang dan tersebarluaskan diseluruh dunia, dan memiliki lebih dari 9.000 bhiksu/bhiksuni serta menangani lebih dari 6.000 kuil diseluruh Jepang dan negara lain. Nichiren Shu sering juga di sebut Nichiren Hokke Shu atau Sekte Hokke Shu, karena berpedoman pada Saddharma Pundarika Sutra

Nichiren Shu di Indonesia saat ini memiliki dua buah kuil yakni Kuil Renge-Ji (Myoho San Renge-Ji) Jakarta, dan Cetya Bodhicitta di Kepulauan Seribu. Mari kita bersama-sama dengan semangat Pendiri kita, Nichiren menyebarluaskan ajaran ini, Saddharma Pundarika Sutra. SELESAI.

Dirangkum oleh Sidin Ekaputra,SE.

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

error: Sorry, Content is protected !! Contact Admin for Permition