Published On: Wed, Mar 2nd, 2016

Hakii Saburo Dono Go Henji (Bagian 1)

Nichiren_exiledHAKII SABURO-DONO GO-HENJI
(SURAT BALASAN KEPADA SABURO-DONO)

Latar Belakang

Surat dari Nichiren Shonin ini dikirimkan kepada Hakii Saburo Sanenaga dari Ichinosawa di Pulau Sado pada tanggal 3 Agustus tahun Bun’ei Ke-10 (1273), ketika itu Nichiren Shonin berumur 51 tahun. Surat aslinya telah hilang, tetapi salinan yang dibuat oleh Nikko Shonin masih tersimpan di Kuil Kitayama Hommon-ji.

Surat ini adalah untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Sanenaga, yang telah mengirimkan surat kepada Nichiren Shonin di Pulau Sado, bertanya tentang Buddhisme. Beliau ingin mengetahui, kenapa Nichiren Shonin telah mengalami beberapa kali penganiayaan dan sama sekali tidak berada dalam kedamaian, seperti yang diharapkan dalam Buddhisme, bahwa mereka yang melaksanakan Buddhisme akan mendapatkan kedamaian di dunia dan akan terlahir kembali ditempat yang baik pada masa mendatang. Nichiren Shonin mengutip kalimat dalam Saddharma Pundarika Sutra dan Sutra Nirvana sebagai jawabannya.

Nichiren Shonin telah menjawab pertanyaan yang sama dari para muridnya dalam surat  “Kaimoku-sho (Membuka Mata Terhadap Ajaran Saddharma Pundarika Sutra).” Hal ini menegaskan kembali bahwa mereka yang akan menyebarkan ajaran dari Saddharma Pundarika Sutra, haruslah melaksanakan tanpa takut akan segala penganiayaan. Oleh karena itu, surat ini dan “Kaimoku-sho” adalah dua tulisan Nichiren Shonin yang membabarkan tentang kepercayaanNya tentang kenapa “para pelaksana Saddharma Pundarika Sutra dihadapkan dengan berbagai penganiayaan dan kesulitan.”

Berdasarkan   kalimat beberapa bab dalam Saddharma Pundarika Sutra seperti Bab.X (Guru Dharma), XIII (Dorongan Untuk Menegakkan Sutra ini) dan XX (Bodhisattva Sadhaparibhuta), bahwa mereka yang menyebarluaskan Saddharma Pundarika Sutra pada Masa Akhir Dharma harus menghadapi berbagai penganiayaan. Surat ini menyatakan secara jelas apa yang dikatakan dalam bab-bab tersebut, Nichiren Shonin telah mengalami penganiayaan seperti yang dikatakan dalam sutra, dan bahwa dalam kebajikanNya, secara nyata mengalami penganiayaan, ini tidak diragukan lagi bahwa pada masa mendatang akan mencapai KeBuddhaan.

Surat ini juga membahas tentang beberapa isu kehancuran dari negara, yang telah dijelaskan oleh Nichiren Shonin dalam “Rissho Ankoku-ron” (Risalah untuk menyebarkan kedamaian keseluruh negara dengan menegakkan Dharma yang sesungguhnya.); menghargai keteguhan hati kepercayaan Sanenaga’s; dan menjelaskan tentang lima aksara dari Dharma luar biasa adalah Dharma yang sesungguhnya untuk disebarluaskan pada Masa Akhir Dharma sebagai sebuah ajaran yang dapat membimbing semua orang termasuk para iblis Icchantika (tanpa bibit kebuddhaan), untuk mencapai KeBuddhaan.

ISI GOSHO

Surat kamu telah saya terima. Membaca surat balasan dariKu, Saya percaya, segala keraguan mu akan lenyap dalam sekejap bagaikan angin kencang yang menerbangkan awan gelap dan bulan yang indah muncul di langit. Tidak seorangpun, apakah berkedudukan tinggi atau rendah, bagaimanapun, tidak percaya bahwa Saya, Nichiren adalah seorang pelaksana dari Saddharma Pundarika Sutra. Orang-orang merasa bimbang kenapa Nichiren, yang mengakui sebagai seorang pelaksana Saddharma Pundarika Sutra harus dihadapi oleh begitu banyak penganiayaan dan kesulitan sedangkan, seperti yang dibabarkan dalam sutra dikatakan bahwa seseorang yang melaksanakan Buddhisme akan mendapatkan kedamaian dalam dunia ini dan akan terlahir kembali dalam sebuah tempat yang lebih baik pada masa mendatang. Oleh Karena hal inilah, maka mereka percaya bahwa mungkin ajaran Nichiren tidak sesuai dengan kebenaran Buddha.

Menghadapi berbagai macam kritikan seperti ini dari awal, Saya tidaklah terkejut karenanya, sekalipun Aku dikucilkan dengan penuh kejengkelan oleh para penguasa Jepang, sebab mengenai hal ini sudah dibabarkan dalam Saddharma Pundarika Sutra bahwa seseorang yang melaksanakan ajaran Saddharma Pundarika Sutra pada Masa Akhir Dharma akan dihadapi pada berbagai macam kesulitan. Mereka yang mempunyai mata hendaknya melihat dengan baik, apa yang dikatakan oleh sutra. Sebagaimana yang  dikatakan dalam Bab X  “Guru Dharma”; “ Pada waktu Sang Buddha masih hidup didunia saha ini, terdapat begitu banyak orang yang membenci sutra ini dengan penuh kecemburuan dan iri hati, apalagi setelah KematianNya.” Bab.XIV “Pelaksanaan Penuh Kedamaian” dikatakan, “Sutra ini dimusuhi oleh banyak orang, dan sangat sulit untuk percaya didalamnya.”

Bab XIII “Dorongan Untuk Menegakkan Sutra ini” dikatakan,”Orang-orang bodoh akan menjelek-jelekannya, menolaknya, dan memukulnya dengan pedang atau tongkat;” “Beberapa bhiksu-bhiksu dalam dunia iblis akan menjadi cerdik;” “Beberapa bhiksu lainnya hidup dengan tenang di hutan dengan memakai jubah kesaya yang penuh tambalan. Para bhiksu itu merasa diri sendiri telah melaksanakan jalan sebenarnya, terikat oleh keserakahan untuk keuntungan dan kepentingan diri sendiri. Mereka membabarkan Dharma kepada orang-orang. Mereka dihormati oleh orang-orang di dunia sebagai arahat-arahat yang telah mendapatkan enam kekuatan supranatural;” “Dalam rangka untuk menjelek-jelekan kita dan memfitnah kita dihadapan orang banyak, mereka akan berkata kepada para Raja, Menteri, Brahman, rakyat dan bhiksu lainnya bahwa pandangan kita adalah salah dan keliru;” “Para iblis akan merasuki tubuh para bhiksu ini dan ini menyebabkan mereka menyakiti dan menghina kita, para pelaksana Saddharma Pundarika Sutra;” dan “Mereka akan mengusir kita keluar dari biara-biara dari waktu ke waktu.”

Sutra Nirvana berkata, ”Terlihat seorang Icchantika, yang menyatakan dirinya seorang arahat yang tinggal dalam biara yang damai dan menfitnah Buddhisme Mahayana, umat biasa akan mengira bahwa ia seorang arahat dan seorang maha bodhisattva.” Sutra ini juga mengatakan,” Pada Masa Kepalsuan Dharma setelah Masa Kebenaran Dharma, akan terdapat para bhiksu yang terlihat seolah-olah menjalankan ajaran Buddha dan aturan vinaya, tetapi hanya sedikit membaca dan menghafal sutra, tetapi mereka larut dalam kesenangan makan dan minum, berpikir hanya untuk diri sendiri.” Meskipun mereka tetap memakai jubah kesaya untuk seorang bhiksu Buddhis, pikiran mereka seperti seorang pemburu yang sedang mengintai mangsanya sambil mengendap-endap atau seperti seekor kucing yang sedang mencoba menangkap tikus. Paragraf keenam Sutra Nirvana dikatakan: “Beberapa Icchantika terlihat seperti seorang arahat.”

Melihat keadaaan Jepang sekarang ini, yang tercermin dalam cermin bersih dari ajaran Buddha yang sebenarnya, Saya dapat melihat semua hal itu dengan sangat jelas tanpa sedikit keraguan pun. Siapakah mereka yang ditunjukkan dalam kalimat, “Beberapa bhiksu lainnya hidup dengan tenang di hutan dengan memakai jubah kesaya yang penuh tambalan ?”, dan “Mereka dihormati oleh orang-orang di dunia sebagai arahat-arahat yang telah mendapatkan enam kekuatan supranatural ?” dan siapakah yang dimaksud dengan, “umat biasa akan mengira bahwa ia seorang arahat dan seorang maha bodhisattva?” Bagaimana dengan “para bhiksu yang terlihat seolah-olah menjalankan ajaran Buddha dan vinaya, tetapi hanya sedikit membaca dan menghafal sutra?” Sebagaimana yang ditunjukkan Sang Buddha dalam pembabaran Buddhisme pada awal Masa Akhir Dharma dalam sutra ini melalui Mata BuddhaNya, jika semua manusia iblis itu tidak terwujud saat sekarang, ini berarti bahwa ramalan Sang Buddha adalah salah dan membingungkan orang. Seandainya terjadi seperti itu, siapakah yang akan percaya terhadap ajaran yang dibabarkan para paruh pertama dan kedua dari Saddharma Pundarika Sutra dan ajaran tentang Bibit Buddha Abadi yang dibabarkan dalam Sutra Nirvana di hutan sal?

Sekarang Saya, Nichiren untuk membuktikan kebenaran dari kata-kata Buddha sesuai dengan keadaan negeri Jepang saat sekarang, akan menjelaskan kalimat-kalimat dalam sutra tersebut, pernyataan seperti “Beberapa bhiksu lainnya hidup dengan tenang di hutan dengan memakai jubah kesaya yang penuh tambalan “ kalimat ini mengacu kepada kuil sekte Zen, Ritsu dan Tanah Suci seperti  Kuil Kencho-ji, Jufuku-ji, Gokuraku-ji, Kennin-ji dan Tofuku-ji. Beberapa kuil tersebut dibangun untuk menghancurkan kuil Sekte Hokke–Tendai seperti Kuil Enryaku-ji di Gunung Hiei. “Para bhiksu yang terlihat seolah-olah menjalankan ajaran Buddha” mengacu kepada para bhiksu yang mengenakan jubah kesaya keemas-emasan dan berkilat-kilat, lima lapis, tujuh lapis atau sembilan lapis (Bhiksu Sekte Ritsu).”Umat biasa akan mengira bahwa ia seorang arahat dan seorang maha bodhisattva?” mereka adalah Doryu dari Kuil Kencho-Ji, Ryokan dari Kuil Gokuraku-ji, dan Shoichi dari Kuil Tofuku-ji. “Masyarakat luas” berarti penguasa negara Jepang, dan “Orang-orang bodoh” berarti seluruh orang di negeri Jepang.

Saya tidak bisa mengatakan bahwa Aku percaya dalam Buddhisme sebab Saya adalah orang biasa yang belum mencapai Penerangan, tetapi sebagaimana apa yang Saya ungkapkan, Saya dapat memastikan bahwa semua itu benar adanya, bagaikan ketika Aku meletakkan tangan didalam air dan api. Saddharma Pundarika Sutra mengatakan bahwa pelaksana Saddharma Pundarika Sutra akan dijelek-jelekan dan dimaki, difitnah, diserang dengan tongkat atau rotan dan diusir. Mengamati keadaan negeri Jepang yang didasarkan dalam pernyataan sutra ini, Saya tidak melihat seorang pun, kecuali diriKu yang mengalami penderitaan karena berbagai macam penganiayaan dan kesulitan sebagaimana yang disebut dalam sutra. Siapakah pelaksana Saddharma Pundarika Sutra seperti yang telah dijelaskan dalam sutra? Musuh-musuh Saddharma Pundairka Sutra seperti yang dijelaskan dalam sutra telah terlihat, namun seorang pelaksana Saddharma Pundarika Sutra yang menderita karena penganiayaan belum ada. Hal ini seperti adanya arah timur tanpa adanya arah barat, atau adanya surga tanpa adanya dunia saha. Jika keadaan memang seperti demikian, maka kata-kata Buddha adalah kebohongan belaka. Apa yang harus kita lakukan?. Mungkin hal ini seperti memuji diri sendiri, tetapi Saya ingin merenungi hal ini untuk menemukan dan membuktikan secara nyata kebenaran Buddha. Kesimpulannya adalah bahwa Aku, Nichiren adalah seorang utusan dari Sang Buddha, pelaksana Saddharma Pundarika Sutra. BERSAMBUNG

Buku “Writing Of Nichiren Shonin” Doctrine 2
Edited by George Tanabe.Jr, Compiled by Kyotsu Hori
Terbitan : Nichiren  Shu Overseas Propagation Promotion Association, Tokyo – Japan
Diterjemahkan oleh Sidin Ong

About the Author

error: Sorry, Content is protected !! Contact Admin for Permition