Published On: Wed, Mar 2nd, 2016

Bab 1 Purwaka “Saddharma Pundarika Sutra”

Chapter 1 Lotus SutraBAB I PURWAKA
Saddharma Pundarika Sutra

RINGKASAN

Dalam Bab I, Buddha Sakyamuni sedang duduk tenggelam dalam meditasi yang sangat khusyuk di puncak Gunung Gridhrakuta di Rajgir, India. Saat itu berkumpul para dewa, orang kaya dan miskin, pria maupun wanita, serta mahkluk-mahkluk selain manusia seperti dewa-dewi dalam bentuk hewan, burung, dan ikan. Ini menekankan bahwa Sutra Bunga Teratai adalah diperuntukkan semua mahkluk, bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi binatang maupun tumbuhan. Hal ini melambangkan kesetaraan dan welas asih.

Tiba-tiba Sang Buddha memancarkan seberkas sinar dari lingkaran putih yang terletak diantara alis mataNya dan menerangi alam semesta ke arah sebelah timur. Ini bermakna Sang Buddha akan memulai pembabaran sutra penting Mahayana yang disebut Hukum Gaib dari Sutra Bunga Teratai.

PENJELASAN

*CATATAN: Nomor halaman dan baris acuan adalah sesuai dengan terjemahan Senchu Murano atas Sutra Bunga Teratai.

Seperti yang telah Aku dengar*(P.1, L.1)

Semua sutra yang ada dimulai dengan kalimat ini. Sutra-sutra bukanlah buku yang ditulis oleh Buddha Sakyamuni ataupun catatan seseorang. Mereka adalah kata-kata suci, kalimat-kalimat, perumpamaan-perumpamaan yang diturunkan dari mulut ke mulut selama 100 hingga 200 tahun, baru kemudian belakangan ditulis menjadi sutra. Mungkih saja belum ada cara untuk menulis pada jaman Sang Buddha. Pada masa itu, tulisan mungkin saja dianggap tidak menghormati Sang Buddha.

Sang Buddha (P.1, L.1)

Ada banyak Buddha seperti Sakyamuni, Taho, Amitabha, Mahavairocana, dan lainnya. Dalam bab ini, Buddha yang dimaksud adalah Sakyamuni. Buddha Sakyamuni adalah satu-satunya yang dilahirkan dari orang tua seperti halnya kita, minum susu seperti halnya kita, makan seperti halnya kita. Buddha-Buddha lainnya diungkapkan oleh Buddha Sakyamuni. Tanpa Beliau, kita tidak mengetahui apa-apa tentang Buddha lainnya.

Gunung Gradharkuta (P.1, L.1)

Disebut juga sebagai Gunung Elang Suci atau Puncak Rajawali. Puncak gunung ini kelihatan bagaikan kepala seekor elang.

Kota dari Rumah-Raja (P.1, L.2)

Saat ini adalah Rajgir, Behar, India

dua belas ribu bhiksu agung (P.1, L.2)

Hinduisme seringkali menggunakan angka-angka seperti 4, 8, 9 sebagai angka yang sempurna. Empat melambangkan depan, belakang, kiri, dan kanan; delapan berarti empat hal yang disebutkan sebelumnya ditambah dengan keempat sudut; dan sembilan melambangkan delapan hal yang disebut sebelumnya ditambah tengah. Sebuah angka yang merupakan kelipatan 4, 8, atau 9 berarti amat banyak. . .

Arahat (P.1, L.3)

Seseorang yang telah bebas dari semua penderitaan dan ilusi. Mereka yang telah mendengarkan Sang Buddha selama kurang lebih 40 tahun dan mengembangkan spritualitas mereka. Sekarang mereka telah siap melangkah lebih jauh untuk mendengarkan Sutra Bunga Teratai. Meski mereka telah terbangun dari ilusi-ilusi, mereka tidak mengetahui bagaimana untuk membimbing orang lain ke ajaran terunggul yaitu Sutra Bunga Teratai.

Maha-(Kasyapa, Katyayana, Kausthila) (P.1, LL.7 – 9)

Maha – berarti agung, ketua, perwakilan dari sebuah kelompok.

Nanda (P.1, L.10) = Adik laki-laki Buddha Sakyamuni

Ananda (P.1, L.11) = Sepupu Buddha Sakyamuni

Rahula (P.1, L.11) = Putra Buddha Sakyamuni

Maha-Prajapati Bhiksuni (P.1, L.14) = Ibu Angkat Buddha Sakyamuni

Yasodhara Bhiksuni (P.1, L.15) = Istri Buddha Sakyamuni

Anuttara-samyak-sambodhi (P.1, L.18) = Kebijaksanaan Buddha

Roda Dharma (P. 1, L.19)

Roda Dharma menandakan ajaran-ajaran Sang Buddha. Dharma disebarkan dari Buddha kepada A, dari A kepada B, dari B kepada C, dan begitu seterusnya. Ajaran-ajaran ini terus disebarkan dari satu orang ke orang lainnya seperti roda yang berputar abadi.

Roda Dharma adalah lambang dari Buddhisme. Roda ini memiliki delapan jari-jari yang masing-masing melambangkan : Pandangan yang Benar, Pikiran yang Benar, Ucapan yang Benar, Perbuatan yang Benar, Penghidupan yang Benar, Usaha yang Benar, Kewaspadaan yang Benar, dan Meditasi yang Benar.

Pantai yang Lainnya (P.2, L.5)

Pantai ini melambangkan dunia Saha – dimana mahkluk-mahkluk hidup bertempat tinggal, dimana hidup dipenuhi dengan penderitaan. Dalam dunia ini terdapat perputaran kelahiran dan kematian yang tiada batasnya. Sedangkan, Pantai yang Lainnya melambangkan Tanah Buddha, dimana tak ada penderitaan. Juga biasanya disebut Tanah Nirvana dimana tidak lagi terdapat perputaran kelahiran dan kematian.

Pantai yang Lainnya dalam bhs. Jepang disebut Hi-gan. Higan adalah suatu upacara peringatan dimana kita mengucapkan rasa terima kasih kita terhadap para leluhur kita. Upacara ini diadakan dua kali dalam setahun pada saat musim semi dan gugur dimana lamanya siang hari dan malam adalah sama panjangnya. Hal ini melambangkan ajaran Buddha tentang JALAN TENGAH (chu – tidak melebihi jalan yang satu maupun yang lainnya)

Berikut adalah nama-nama kelompok perwakilan yang hadir untuk mendengarkan Sutra Bunga Teratai :

Bodhisattva (P.2, L.8)

Bodhisattva adalah orang yang menginginkan penerangan bukan hanya untuk dirinya semata tetapi juga untuk orang lain. Seorang Bodhisattva adalah calon Buddha.

para dewa (P.2, L.17)

Dalam Buddhisme, para dewa tunduk kepada perputaran kelahiran dan kematian. Mereka adalah adalah para dewa pelindung yang harus mengikuti hukum dari Dharma (Myo-ho), mereka juga mendukung para pelaksana Sutra Bunga Teratai.

raja naga (P.2, L.25)

Semua mahkluk yang hidup di lautan, sungai, dan air; seperti misalnya ikan.

raja kimnara (P.2, L.30) atau Pelaksana Dharma

raja gandharva (P.2, L.33)

Pemain musik yang melayani dewa-dewa pelindung raja-asura (P.3, L.3). Iblis-iblis yang terbang di angkasa dan mencelakai manusia. Bahkan para iblis mengagumi ajaran-ajaran sang Buddha.

raja garuda ( P.3, L.6)

Semua mahkluk yang terbang di angkasa, seperti burung-burung.

Raja Ajatasatru (P.3, L. 9)

Putra Raja Bimbisara dan Ratu Vaidehi. Ketika Raja Ajatasatru menjadi putra mahkota, ia memenjarakan ayah dan ibunya. Karena terhasut oleh Devadatta (yang merupakan sepupu Buddha Sakyamuni), Ajatasatru kemudian membunuh ayahnya dan mengambil tahta Kerajaan. Ajatasatru melambangkan manusia jahat, bersama-sama dengan Devadatta. Akan tetapi, Raja Ajatasatru kemudian menyadari tindakan salahnya dan pada akhirnya menanamkan hati kepercayaan pada Saddharma Pundarika Sutra.

bersujud di kaki sang Buddha (P.3, L.11)

Tradisi ini merupakan salah satu adat di India untuk menunjukkan rasa hormat kepada kaum bangsawan. Pada saat upacara-upacara agama Buddha, para bhikku dan pendeta membungkuk dalam-dalam dengan dahi menyentuh lantai dan telapak tangan menghadap ke atas. Tindakan ini dimaksudkan untuk menerima telapak kaki sang Buddha di atas telapak tangan mereka, menunjukkan rasa hormat yang dalam kepada sang Buddha.

empat jenis kaum penganut (P.3, L.12)

Yang dimaksud golongan ini adalah bhiksu (biarawan), bhiksuni (biarawati), upasaka (umat awam pria), and upasika (umat awam wanita).

Sang Buddha memancarkan seberkas sinar dari lingkaran putih yang terletak di antara kedua mataNya. . .(P.3, L.30).

“Kenapa Beliau memancarkan seberkas sinar seperti itu dari dahiNya? “ pikir Bodhisattva Maitreya. “Menurut saya sang Buddha … hendak membabarkan sebuah ajaran yang luar biasa … ,” jawab Bodhisattva Manjusri. (P.13, L.15).

“Dalam kelahiran saya yang terdahulu, saya juga melihat pertanda baik sama seperti ini. “ (P.13, L.20).

“Oleh sebab itu, menurut saya sang Tathagata masa sekarang ini juga akan membabarkan sutra Mahayana yang berjudul Hukum Gaib dari Sutra Bunga Teratai.” (P.16, L. 28)

SEPULUH GELAR SANG BUDDHA (P.13, L.L.28-32)

1.Tathagata : yang berasal dari dunia Kebenaran.

2.Penerima Persembahan: yang patut untuk menerima persembahan.

3.Pencapai Penerangan Sempurna: yang mengetahui segala sesuatu dengan sempurna.

4.Sang Arif Bijaksana dan Pelaksana Sila: yang mampu melihat kebenaran dan berjalan di jalan kebenaran.

5.Pergi dengan Sempurna: yang telah pergi ke dunia Penerangan.

6.Yang Memahami Dunia: yang mengerti dan memahami dunia.

7.Tak Tertandingi: yang tak tertandingi oleh siapapun juga.

8.Pembimbing manusia: yang melatih dan membimbing umat manusia.

9.Guru bagi para Dewa dan manusia: yang mengajar dewa dan manusia

10.Yang disembah oleh dunia: yang disembah dan dipuja oleh manusia di dunia.

TIGA KENDARAAN

1. Sravaka (Sho-mon) (P.14, L.3): dimana seseorang mampu memahami Buddhisme dengan mendengarkan, atau dengan logika dan pikiran.

2. Pratyekabuddha (En-gaku) (P.14, L.6): dimana seseorang mampu memahami Buddhisme dengan sendirinya atau seseorang yang mampu menerapkan Buddhisme dalam kehidupan sehari-hari.

3. Bodhisattva (Bo-satsu) (P.14, L.9) : dimana seseorang berusaha mencapai Penerangan dan berusaha menolong nahkluk lain mencapai Kebuddhaan.

EMPAT KESUNYATAAN MULIA (P.14, L.4) :

Suatu konsep dasar dalam Buddhisme yang menerangkan penyebab penderitaan serta jalan untuk melenyapkannya.

1. Semua Kehidupan adalah Penderitaan (Dukkha):

Dunia ini penuh dengan penderitaan, hidup penuh dengan ketidak puasan; jika kita tidak memiliki cukup uang, kita menderita karenanya; jika kita punya uang lebih dari cukup, kita masih saja tetap khawatir akan kehilangannya.

2. Penyebab penderitaan adalah ilusi / khayalan dan nafsu:

Ada begitu banyak orang yang mati setiap harinya. Jika kita tidak mengenal mereka kita tidak akan merasa sedih dan kehilangan, tapi jika kita mengenalnya kita bersedih hati. Ini semua dikarenakan kita memiliki keinginan/hasrat agar mereka hidup lebih lama.

3. Nirvana (Nibbana) adalah alam yang bebas dari  penderitaan:

Ketenangan pikiran bisa dicapai pada saat kita mampu melenyapkan semua penderitaan dan ketidak puasan.

4. Jalan untuk mencapai penerangan Nirvana adalah denganmelaksanakan Jalan Beruas delapan:

1.Pandangan yang benar,

2.Pikiran yang benar,

3.Ucapan yang benar,

4.Perbuatan yang benar,

5.Penghidupan yang benar,

6.Usaha yang benar,

7.Kewaspadaan yang benar, dan

8.Meditasi yang benar.

DUABELAS SEBAB (P.14, L.7)

1. Ketidak-tahuan (moo-my),

2. Tindakan (go),

3. Kesadaran (shake),

4. Fungsi mental dan materi (my-shake),

5. Keenam indera (rook-nigh),

6. Kontak (soak),

7. Persepsi (dg),

8. Keinginan/hasrat (Al),

9. Keterikatan (Hs),

10. Keberadaan (u),

11. Kelahiran (Hs), dan

12. Usia tua dan Kematian (ro-shi).

ENAMA PARAMITA (P.14, L.9):

Keenam latihan yang dijalankan seorang Bodhisattva sehingga mampu mencapai Kesadaran Buddha:

1. Menyumbang / Danna (fuse),

2. Mempertahankan ajaran (ji-kai),

3. Ketabahan (nin-niku),

4. Berusaha (Sho-jin),

5. Meditasi (zen-jo), dan

6. Kebijaksanaan (chi-e).

– SELESAI –

Seri Penjelasan Saddharma Pundarika Sutra
Oleh: Rev. Shokai Kanai
Sumber Acuan: Buku “The Lotus Sutra” By Senchu Murano
Diterjemahkan oleh: Sidin Ong

About the Author

error: Sorry, Content is protected !! Contact Admin for Permition