Published On: Wed, Mar 2nd, 2016

Hakii Saburo Dono Go Henji (Bagian 2)

Nichiren GohonzonHAKII SABURO-DONO GO-HENJI
(SURAT BALASAN KEPADA SABURO-DONO)
BAGIAN 2

ISI GOSHO

Lagipula, di dalam Bab XX “Bodhisattva Sadaparibhuta” Saddharma Pundarika Sutra, Sang Buddha menceritakan tentang kehidupanNya pada masa lampau: “Pada suatu masa, terdapatlah seorang Bodhisattva yang bernama Sadaparibhuta ……. Ia menyebarluaskan Saddharma Pundarika Sutra dengan penuh semangat meskipun mendapat penganiayaan.” Sutra ini  menguraikan bagaimana orang-orang jahat menjelek-jelekan, mencaci maki dan menganiaya dia dengan mengunakan tongkat kayu atau potongan kayu, dan melemparkan batu kearahnya. Kutipan sutra ini untuk memperlihatkan tentang pelaksanaan pada masa lampau Sang Buddha, dan memberikan dorongan kepada mereka yang akan menyebarluaskan Sutra ini pada Masa Akhir Dharma. Menyebarluaskan Saddharma Pundarika Sutra, Bodhisattva Sadaparibhuta mendapatkan penganiayaan dan diserang dengan tongkat dan batu, tetapi ia memperoleh Kesadaran Buddha dengan segera. Ketika Aku menyebarluaskan Saddharma Pundarika Sutra, rumahKu di Matsubagayatsu dibakar, dan Aku diserang oleh Tojo Kagenobu di Komatsubara, dibuang ke semanjung Izu, dan diasingkan ke Pulau Sado. Oleh karena itu, tanpa keraguan Aku pasti akan mencapai KeBuddhaan pada masa mendatang.

Bahkan Empat Yang Terpercaya (Empat orang yang dikategori sebagai Bodhisattva, mereka para Buddhis yang menjadi pembimbing setelah kemoksaan Sang Buddha) sepanjang Masa Kebenaran Dharma dan Masa Persamaan Dharma mendapat berbagai kemalangan ketika mereka mencoba untuk menyebarluaskan sutra ini. Sebagai contoh, Bodhisattva Deva, pewaris Dharma langsung ke-20, telah dibunuh secara kejam, dan penerus ke-25, Arya Simha telah dipenggal oleh seorang raja jahat. Buddhamitra, pewaris langsung Dharma ke-8, menyebarluaskan dengan membawa bendera merah didepan pintu gerbang istana selama 12 tahun sedangkan Bodhisattva Nagarjuna, pewaris ke-13, melakukan hal yang sama selama 7 tahun. Di China, Tao-sheng dihukum buang ke Gunung Sushan karena ia menegaskan bahwa semua orang dapat mencapai KeBuddhaan; Fa-tsu telah dikucilkan sebab ia menyebarluaskan dengan bersemangat di Chang-an; Guru Tripitaka Fatao mendapatkan cacat diwajahnya dan diusir karena mengkritik Kaisar Hui-Tsung dari Dinasti Sung; Hui-yuan telah di hukum karena mengkritik kebijakan Anti Buddhis yang dilakukan oleh Kaisar Wu dari Chou Utara.

Mahaguru T’ien-tai terlibat perdebatan yang sengit dengan para guru agama; 3 dari selatan dan 7 dari utara dalam menegakkan ajaran barunya, dan Mahaguru Dengyo di Jepang harus berdebat melawan 6 sekte Buddhis di Nara sepanjang pemerintahan Kaisar Kammu. Diterima atau tidaknya para guru Buddhis ini tergantung dari apakah pandangan mereka diterima oleh raja yang bijaksana atau ditolak oleh raja yang bodoh; maka ini bukan karena penyebarluasan ajaran sesuai atau tidak dengan kehendak Buddha.

Keadaan ini sudah berlangsung selama Masa Kebenaran Dharma (Saddharma) atau Masa Persamaan Dharma (Pratirupadharma), apalagi ketika Masa Akhir Dharma ! Aku, Nichiren mendapatkan kecaman dari KeShogunan Kamakura demi Saddharma Pundarika Sutra. Ini adalah sebuah kebahagiaan terbesar yang pernah terjadi pada diriKu; hal ini seperti menukar sebuah potongan kayu atau batu yang tidak berharga dengan potongan emas dan perak.

Bagaimanapun, ada hal yang membuat Aku prihatin. Didalam Sutra Raja Yang Baik Hati (Ninno-Kyo) atau Manusendra diramalkan bahwa: “Tujuh bencana akan pasti terjadi, ketika orang suci meninggalkan suatu negeri.” Tujuh bencana berarti terjadi kekacauan dan peperangan serta kekeringan yang akan menyengsarakan orang banyak. Sutra Kemuliaan Keemasan (Konkomyo-kyo), dikatakan: “Ketika seorang raja mengikuti orang jahat dan dengan kebodohan menghukum orang berbudi luhur, pergerakkan matahari, bulan dan bintang akan terganggu, atau perubahan angin dan musim hujan tidak akan sesuai dengan waktunya.” Siapakah mereka yang dikatakan dalam sutra sebagai “Orang jahat yang diikuti oleh sang raja ?” Mereka adalah para bhiksu seperti Doryu, Ryokan, dan Shoichi yang disebutkan diatas. Siapakah yang dikatakan dalam sutra sebagai “menghukum orang berbudi luhur?” Mereka adalah yang diusir dari biara-biara berulang kali seperti yang dinyatakan dalam Bab.XIII “Dorongan Untuk Menegakkan Sutra Ini”, Saddharma Pundarika Sutra. Ketidakteraturan didalam bergeraknya gejala alam mengacu pada gejala aneh yang terjadi dilangit dan bencana alam diatas bumi yang telah sering terjadi dua puluh tahun terakhir ini. Jika kutipan kalimat dari Sutra Raja Yang Baik Hati (Ninno-kyo) dan Sutra Kemuliaan Keemasan (Konkomyo-kyo) ini benar, hukum pembuangan yang Aku, Nichiren terima adalah suatu pertanda kemusnahan dari negeri ini. Disamping itu, mengenai hal ini sebelum Aku dihukum pembuangan, telah disampaikan dalam risalah “Rissho Ankoku-ron” atau Risalah “Menyebarkan Kedamaian Keseluruh Negeri Dengan Menegakkan Ajaran Yang Sesungguhnya” kepada KeShogunan. Oleh karena itu, tidak terdapat sedikitpun keraguan mengenai hal ini. Ini sungguh sesuatu yang sangat disayangkan, bahwa dengan menganiaya pelaksana Saddharma Pundarika Sutra, negeri ini akan jatuh dalam bencana nasional dan hal ini sangat memperihatinkan Nichiren.

Setelah 2.222 tahun setelah Kemoksaan Sang Buddha. Dharma Buddha telah disebarluaskan oleh para Bodhisattva seperti Nagarjuna dan Vasubandhu di India sepanjang 1.000 tahun Masa Kebenaran Dharma (Saddharma). Ajaran yang mereka sebarkan bukanlah ajaran Mahayana yang sesungguhnya, tetapi hanya ajaran Hinayana dan Mahayana Sementara. Maha Guru T’ien-t’ai yang lahir di negeri China pada Masa Persamaan Dharma (Pratirupadharma), mengkritik doktrin sesat dari tiga guru selatan dan tujuh guru utara dan menjelaskan tentang Saddharma Pundarika Sutra sebagai Yang Tertinggi diantara semua Sutra Buddha. Didalam perbandingan keunggulan sutra, T’ien-t’ai menegakkan sebuah teori baru tentang Lima Periode Pengajaran, dimana ini dibuat untuk menyempurnakan ajaran tentang Saddharma Pundarika Sutra. Didalam pelaksanaan dan perenungan, Ia membuktikan bahwa 3.000 gejala keberadaan terdapat dalam sekejap pikiran dari semua orang, mereka yang belum tercerahkan. Sehingga, seluruh orang di China menyebut Beliau sebagai “Buddha Kecil” dan menghormati Beliau. Bagaimanapun, mengenai Tiga Susun Ajaran dari Saddharma Pundarika Sutra, beliau hanya menyebarkan dua Dharma sempurna yakni Kebijaksanaan dan Meditasi tanpa pengajaran Ajaran Yang Sempurna. Maha guru Dengyo yang muncul di Jepang sekitar 1.800 tahun setelah kemoksaan Sang Buddha. Beliau mengkritik kesalahan pemahaman terhadap Buddhisme yang dilakukan oleh Enam Sekte Buddhisme di Nara, 200 tahun setelah Buddhisme pertama kali diperkenalkan di Jepang pada masa pemerintahan Kaisar Kimmei. Lebih dari itu, untuk pertama kali, Ia menyebarluaskan Ajaran Yang Sempurna, yang mana tidak dilakukan oleh T’ien-t’ai. Ini adalah ajaran agung dan sempurna dari Kuil Enryakuji di Gunung Hiei.

Selama lebih dari 2.000 tahun setelah kemoksaan Sang Buddha, Buddhisme tersebarluas di India, China dan Jepang, terdapat banyak kuil di negara-negara itu. Bagaimanapun, tidak terdapat satu kuil pun yang pernah menempatkan Buddha Sakyamuni yang telah mencapai Penerangan Agung sejak masa lampau yang abadi, sebagaimana yang diungkapkan didalam bagian pokok dari Saddharma Pundarika Sutra, dan tak seorangpun pernah menyebarkan Dharma Utama yang terdiri dari lima aksara “Myo, Ho, Ren, Ge Kyo”, yang telah diberikan kepada Bodhisattva Muncul dari Bumi, para murid dari Buddha Sakyamuni Sejati dan Abadi. Meskipun didalam sutra dikatakan bahwa, Sutra ini akan tersebarluas pada awal Masa Akhir Dharma, tetapi tidak tersebarkan dinegara manapun. Apakah ini berarti bahwa waktu yang tepat untuk penyebarluasan belum tiba? Atau, Apakah karena kemampuan dari orang-orang untuk memahami belum matang? Sang Buddha membabarkan dalam Bab.XXIII “Kehidupan Lampau Bodhisattva Baisyajaraja” Saddharma Pundarika Sutra dikatakan, “Sebarkanlah Sutra ini keseluruh dunia pada awal 500 tahun ke lima setelah kemoksaanKu, agar ia tidak musnah.” Mahaguru T’ien-t’ai menjelaskan ini dalam “Hokke Mongu“ (Kata-kata dan Ungkapan dalam Saddharma Pundarika Sutra), “Dharma yang luar biasa ini akan tersebarluaskan pada periode 500 tahun kelima.” Mahaguru Dengyo mengatakan dalam risalahnya “Melindungi Negara” bahwa, “Masa Kebenaran Dharma dan Masa Persamaan Dharma telah berlalu, dan pada Masa Akhir Dharma, ketika Ajaran Kendaraan Tunggal Saddharma Pundarika Sutra akan tersebarluaskan, adalah begitu dekat ditangan.”

Kutipan kalimat dalam sutra dan komentar ini mengarah pada awal permulaan dari Masa Akhir Dharma sebagai waktu dimana Saddharma Pundarika Sutra akan tersebarluaskan. Seorang Brahman di India menprediksikan bahwa, “Buddha akan muncul pada 100 tahun kemudian” dan cendikiawan Kongfucu di Negeri China meramalkan, “Buddhisme akan diperkenalkan di negeri China 1.000 tahun kemudian.” Meskipun ramalan ini dibuat oleh orang biasa, tetapi terbukti kebenarannya, apalagi jika hal itu dibuat oleh para guru suci seperti T’ien-t’ai dan Dengyo? Apalagi kata-kata emas dari Buddha Sakyamuni dan Buddha Prabutharatna! ini tidak diragukan lagi bahwa waktu bagi Saddharma Pundarika Sutra untuk tersebarluaskan telah tiba, dan Buddha Sakyamuni dan Lima Aksara dari Dharma Luar Biasa akan diterima diseluruh penjuru dunia.

Namun demikian, meskipun mereka yang sudah sering mendengarkan pengajaran Buddhisme yang penting dari Aku, Nichiren, mungkin saja meninggalkan hati kepercayaan ketika mereka melihat begitu banyak penyiksaan dan penganiayaan yang dialami. Anda mendengarkan hukum ini hanya sekali dua kali, dan juga hanya sekali waktu saja, kamu masih menjaga hati kepercayaan didalam Saddharma Pundarika Sutra. Hal ini pasti karena adanya hubungan yang erat dari masa lampau.

Mahaguru Miao-lo menyatakan dalam “Hokke Mongu-ki” (Catatan tambahan atas kalimat dan ungkapan dalam Saddharma Pundairka Sutra); “Jika seseorang pada Masa Akhir Dharma, hanya sebentar mendengarkan Saddharma Pundarika Sutra dan menaruh hati kepercayaan didalamnya, hal ini disebabkan karena ia mempunyai hubungan yang dekat sutra itu yang didengarnya pada masa lampau.” Ia juga mengatakan dalam “Makashikan fugyoden guketsu” (Catatan tambahan atas Pengertian yang mendalam dan Konsentrasi Yang benar); “Tanpa adanya hubungan yang erat dalam kehidupan lampau, seseorang yang tidak dilahirkan pada masa kehidupan Sang Buddha atau Masa Kebenaran Dharma tetapi hanya terkait pada akhir dari Masa Persamaan Dharma tidak akan dapat menerima Saddharma Pundarika Sutra, Sutra Yang Terunggul diantara seluruh sutra.” Dalam Bab.XVIII “Kebajikan Karena Gembira Mendengarkan Sutra Ini” dalam Saddharma Pundarika Sutra dibabarkan; “Seseorang yang telah melayani 10 trilyun para Buddha di masa lampau dapat terlahir sebagai seorang manusia dan dapat mempunyai hati kepercayaan dalam Saddharma Pundarika Sutra.” Sutra Nirvana juga mengatakan bahwa, “Seseorang yang telah dilahirkan di dunia iblis (Masa Akhir Dharma) setelah kemoksaan Sang Buddha dan dapat mempunyai hati kepercayaan dalam Sutra Nirvana adalah seseorang yang telah melayani para Buddha bagaikan banyaknya pasir di sungai Hiranyavati pada masa lampau.”

Ajatasatru adalah seseorang yang sangat jahat, yang telah membunuh ayahnya dan memenjarakan ibunya, tetapi ketika Sang Buddha membabarkan Sutra Nirvana, ia hadir mendengarkan pembabarannya dan mempunyai kesempatan juga mendengarkan pembabaran Saddharma Pundarika Sutra. Kemudian karena itu, tidak hanya penyakit tumor yang menulari tubuhnya, dalam kaitannya dengan karma membunuh ayahnya, telah musnah dengan segera, tetapi juga ia, yang seharusnya telah mati, telah dapat hidup selama lebih dari 40 tahun lagi. Bahkan dengan segera sang raja, yang dikenal sebagai orang tidak mempunyai hati kepercayaan, setelah menerima ajaran Sang Buddha dapat memasuki tingkatan Shoju dalam Jalan KeBodhisattvaan.

Devadatta, seorang keponakan Sang Buddha, adalah orang yang dikenal sebagai orang yang telah melukai Sang Buddha. Oleh karena itu, Devadatta dikatakan bahwa adalah mustahil untuk dapat diselamatkan dalam pembabaran sutra sebelum Saddharma Pundarika Sutra. Namun, pada Bab.XII “Devadatta” Saddharma Pundarika Sutra, dibabarkan bahwa ia akan menjadi Raja Surgawi Buddha (Tathagata Devaraja) pada masa mendatang.

Merenungkan hal-hal tersebut diatas, Aku menyakini bahwa orang-orang biasa didalam Masa Akhir Dharma yang melakukan sedikit atau banyak karma buruk. Ya atau tidak seseorang itu dapat mencapai KeBuddhaan tidak tergantung pada besar atau kecilnya karma buruk yang dibuat tetapi tergantung pada ada atau tidaknya hati kepercayaan kepada Saddharma Pundarika Sutra. Sebagai seorang anggota keluarga prajurit, kamu tentu selalu berhadapan dengan perbuatan membunuh orang lain, yang mana dalam Buddhisme hal tersebut sangat dilarang. Hal ini membuat kamu seperti seorang yang jahat. Jika kamu tidak dapat meninggalkan keluargamu dan keluar dari masyarakat, bagaimana kamu dapat menghindari diri, jatuh dalam Tiga Dunia Buruk seperti Neraka? Kamu sebaiknya memikirkankan hal ini secara mendalam.

Saddharma Pundarika Sutra membabarkan bahwa orang-orang biasa yang penuh dengan karma buruk dan keterikatan hawa nafsu dapat mencapai KeBuddhaan. Oleh karena itu, kamu juga dapat mencapai KeBuddhaan tanpa perlu merubah dirimu sebagai orang biasa atau orang jahat. T’ien-t’ai mengatakan dalam “Hokke Mongu” (Kata-kata dan Ungkapan dalam Saddharma Pundarika Sutra); “Sutra yang dibabarkan sebelum Saddharma Pundarika Sutra memberikan kemungkinan pencapaian KeBuddhaan kepada orang-orang yang mempunyai kebajikan luhur tetapi tidak untuk orang jahat; bagaimanapun, keduanya baik orang yang berkebajikan atau orang jahat dapat mencapai KeBuddhaan didalam Saddharma Pundarika Sutra.” Miao-lo menyatakan dalam Hokke Mongu-ki (Catatan tambahan Kata-kata dan Ungkapan dalam Saddharma Pundarika Sutra) bahwa,”Ajaran Sempurna dari Saddharma Pundarika Sutra menjelaskan bahwa meskipun bertentangan dapat menjadi selaras, tetapi Tiga Ajaran lainnya (Pitaka, Umum dan Pengajaran Berbeda) menjelaskan bahwa bertentangan adalah bertentangan, dan selaras adalah selaras, yang dengan jelas memisahkan antara kebajikan dan kejahatan.” Kamu harus berpikir keras tentang arti semua ini.

Aku bermaksud menulis tentang pertanyaan bahwa apakah seseorang itu dapat atau tidak mencapai Penerangan dari sutra-sutra sementara, selain Saddharma Pundarika Sutra, tetapi aku sedikit khawatir terhadap mereka yang hanya memiliki sedikit pengetahuan dasar Buddhisme, yang hanya mengerti sebatas nama dan jumlah ajaran saja. Meskipun demikian, ada beberapa murid saya, yang telah aku ajarkan secara garis besar mengenai hal itu. Kamu bisa menanyakan tentang hal tersebut kepada mereka. Kemudian, aku akan menulis surat kepadamu lagi.

Tanggal 3 bulan 8

Tahun Bun-ei ke-10

Surat Balasan Kepada Tuan Nambu Rokuro Saburo di Propinsi Kai

Hormat Saya,

Nichiren (Tanda tangan)

Catatan tambahan : Para muridKu seperti Chikugo-bo Ben-ajari dan Daishin-ajari sedang berada di Kamakura. Bisakah kamu untuk bertemu dan bertanya kepada mereka ? Aku telah memberitahukan kepada mereka tentang ajaran yang penting didalam pikiranKu. Mereka kurang lebih telah memahami ajaran tertinggi Saddharma Pundarika Sutra yang belum tersebarluas di Jepang sehingga mereka dapat menjelaskan apa yang kamu ingin ketahui dan pelajari.

Buku “Writing Of Nichiren Shonin” Doctrine 2
Edited by George Tanabe.Jr, Compiled by Kyotsu Hori
Terbitan : Nichiren  Shu Overseas Propagation Promotion Association, Tokyo – Japan
Diterjemahkan oleh Sidin Ong

About the Author

error: Sorry, Content is protected !! Contact Admin for Permition