Published On: Wed, Mar 2nd, 2016

Bab 2 Upaya Kausalya “Saddharma Pundarika Sutra”

lotus sutra nichirenSeri Penjelasan Saddharma Pundarika Sutra
Oleh: Rev. Shokai Kanai
Sumber Acuan: Buku “The Lotus Sutra” By Senchu Murano
Diterjemahkan oleh: Sidin Ong

BAB II UPAYA KAUSALYA

RINGKASAN

Buddha Sakyamuni bangkit dari samadhiNya dan mulai membabarkan kebijaksanaan yang mendalam dan tak terukur dari para Buddha. Ajaran-ajaran dalam bab ini dapat diringkas menjadi empat poin utama :

1. Semua hal yang kita rasakan dengan kelima indera kita hanyalah bersifat sementara. Mereka terwujud dalam seribu cara yang berbeda-beda, dan kesemuanya sama pentingnya dalam hubungan keberadaan timbal balik. Akan tetapi, semua hal tersebut senantiasa berubah, sementara mereka hadir dalam keharmonisan satu dengan lainnya di seluruh alam semesta ini. Semua tercakup dalam hukum Kebenaran.

2. Oleh karena itulah, semua mahkluk adalah perwujudan dari Kebenaran (Kebijaksanaan Buddha) dan memiliki jiwa Buddha.

3. Sang Buddha muncul di dunia untuk membabarkan Kebenaran. Para Buddha telah muncul untuk menyadarkan semua mahkluk akan jiwa Buddha mereka, mempraktekkan jalan Bodhisattva, dan pada akhirnya mencapai penerangan.

4. Karena orang-orang pada awalnya tidak mampu memahami Kebenaran akibat pikiran mereka tertutup oleh gaya hidup keduniawian, Sang Buddha mengajarkan berbagai ajaran menurut kemampuan mereka masing-masing. Seperti ajaran untuk orang-orang kaum Sravaka (Shomon), Pratyekabuddha (Engaku), dan Bodhisattva (Bosatsu). Akan tetapi, semua ajaran sementara inilah yang membimbing semua mahkluk kepada Kebenaran dari Kendaraan Tunggal, ajaran Saddharma Pundarika Sutra. Maka dari itu, ajaran sementara dan ajaran sesungguhnya adalah tak terpisahkan.

PENJELASAN

samadhi (P.23, L.2):

Pemusatan pikiran pada satu objek tunggal. Dalam bab ini, samadhi berarti meditasi yang mendalam. Buddha Sakyamuni bangkit dari meditasiNya yang mendalam dan akan mulai mengungkapkan Dharma penting yang telah lama dinanti-nanti.

Kebijaksanaan dari para Buddha (P.23, L.3):

Kebijaksanaan untuk menyadari ketiga kebenaran dari semua fenomena: kesetaraan, perbedaan, dan keseluruhan. Contohnya: 1. Semua mahkluk hidup adalah setara karena mereka semua memiliki jiwa Buddha dan mampu untuk mencapai Kebuddhaan; 2. Semua orang berbeda dalam hal ras, jenis kelamin, pendidikan, latar belakang, umur, dll.; 3. Oleh karena itulah, kita harus memandang semua hal secara menyeluruh.

Dharma sesuai dengan kemampuan semua mahkluk hidup (P.23, L.12):

Sang Buddha selalu membabarkan ajaran-ajaranNya sesuai dengan kemampuan pemahaman dari masing-masing pendengarNya.

ajaran sementara yang tak terhitung (P.23, L.18):

ajaran sementara berarti memberitahukan ketidakbenaran untuk menuntun orang lain menuju kebenaran. Lebih lanjut lagi, sebuah kebohongan menandakan pemberitahuan ketidakbenaran demi keuntungan dan manfaat dari pendengar.

paramita (P.23, L.20):

Mengacu kepada penyeberangan pantai kelahiran dan kematian ini menuju pantai seberang Nirvana.

paramita pengertian/wawasan (P.23, L.20):

Adalah salah satu paramita yang berarti pemahaman menyeluruh atas ketiga cara pandang berbeda: ku, ke dan chu.

Kenyataan dari semua hal (P.24, L.7):

Adalah menyadari sepenuhnya cara pandang ku, ke dan chu, dan juga menyadari proses bagaimana sesuatu terbentuk di masa lalu, sedang berlangsung di masa sekarang, dan akan terwujud di masa mendatang. Sebagai contoh, sebatang pohon di masa lalu, kemudian sekarang menjadi sebuah meja, dan akan menjadi kayu bakar di masa mendatang.

Sepuluh Nyo-ze (P.24, LL.8-12):

Buddha Sakyamuni menganalisa kebenaran universal dalam berbagai macam cara. Salah satu dari cara tersebut adalah dengan Sepuluh Nyo-ze dalam Bab 2, “Upaya Kausalya” dari Saddharma Pundarika Sutra. Ia memilah-milah hakekat dari semua hal menjadi sepuluh bagian untuk mengamati tampilan, hakekat dasar, fisik, kekuatan, kegiatan, sebab pokok dan jodoh, efek, akibat, dan kesatuan dari kesembilan faktor tersebut dalam setiap hal. Setiap orang memiliki wajah. Ekspresi muka seseorang berubah sesuai dengan apa yang ia rasakan pada saat tertentu. Sebagai contoh, mimik yang lembut mencerminkan ketenangannya. Wajah yang marah mencerminkan perasaan marahnya. Sifat kelembutan dan kemarahan terdapat dalam tubuh dan pikiran seseorang. Semua tubuh fisik memiliki penampilan/rupa dan pikiran. “Nyoze-so” berarti “penampilan yang demikian”, “Nyoze-Sho” berarti “hakekat dasar yang demikian”, dan “Nyoze-tai” berarti “perwujudan fisik suatu hal yang demikian”; oleh karena itu, semua hal memiliki berbagai penampilan/rupa, karakteristik, dan tubuh fisik. Anda bisa saja berpikir bahwa benda seperti meja atau kursi tidak memiliki hakekat terpendam karena mereka tidak memiliki pikiran. Akan tetapi mereka punya, tergantung dari bahan yang digunakan dalam pembuatannya. Sebuah kursi kayu dapat memiliki “perasaan” atau sifat hangat, sedangkan kursi besi memiliki sifat dingin. Es adalah dingin, api adalah panas, dan begitu pula dengan semua hal lainnya.

Semua hal juga memiliki kekuatan dan kegiatannya masing-masing. Lantai memiliki kekuatan untuk menahan tubuh kita dan perabotan. Pilar memiliki kekuatan untuk menahan atap dan langit-langit. Kekuatan, maka dari itu, hadir dalam benda-benda itu. Ketika kekuatan ini muncul ke permukaan, ia menjadi kegiatan/aktivitas. “Nyoze-riki” berarti “kekuatan potensial yang demikian”, sedang “Nyoze-sa” berarti “interaksi yang demikian”. Seorang pria dikatakan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada seorang wanita, sehingga ia mampu mengangkat sekarung beras sendirian. Seorang wanita dikatakan memiliki kekuatan yang lembut, sehingga ia mampu merawat pasien lebih baik daripada seorang pria.

Ketika segala sesuatu terjadi, selalu ada sebab pokok/utama atau “Nyoze-in” dan jodoh lingkungan atau “Nyoze-en”. Tindakan menyalakan sebatang korek api adalah sebab pokoknya, tetapi tergantung dari apakah anda menyalakannya di air atau di udara akan memberikan hasil yang berbeda. Ketika anda menyalakan korek api di udara, akan timbul api yang dapat membakar benda lain, “Nyoze-ka”; dan makanan bisa dimasak, yakni “Nyoze-ho”. Jika korek api dinyalakan dalam air, korek tersebut tidak akan pernah meyala karena jodoh lingkungannya salah. Hukum sebab akibat tidak selamanya membawa hasil yang sama. Sebagai contoh, meski benih-benih ditanam pada saat bersamaan, ada benih yang dapat tumbuh dan ada pula yang tidak, tergantung dari faktor lingkungan sekitarnya. Oleh karena itulah, kita harus mempertimbangkan dampak lingkungan kita dengan seksama.

Faktor-faktor yang telah disebutkan di atas terkandung secara sama dalam semua mahkluk. Yakni “Nyoze Hon Matsu Ku Kyo To”. Jika kesemua faktor ini selaras satu dengan yang lainnya, akan ada kebahagiaan dan kedamaian. Dalam kenyataannya tidak selalu demikian, karena meski sebab langsungnya baik, hasilnya mungkin saja buruk. Meski seseorang memiliki sifat baik, tapi jika ia tidak menunjukkannya kepada orang lain, ia tidak akan diterima dengan baik oleh orang lain. Ini adalah contoh ketidak-selarasan.

Maka dari itu, Sepuluh Nyoze menunjukkan kenyataan dari semua hal. Cobalah untuk menerapkan ajaran yang demikian ini dalam kehidupan sehari-hari anda.

TIGA CARA UNTUK MEMANDANG SESUATU

Kenapa kita mengulang penyebutan: “Nyoze-so, Nyoze-tai, …Nyoze-honmatsu-kukyoto? “ Karena ada tiga cara berbeda untuk memandang sesuatu. Antara lain kesetaraan (ku), perbedaan (ke), dan keseluruhan (chu). Hal ini didasarkan pada ajaran T’ein-T’ai “Tiga Jenis Kebenaran; ku, ke, dan chu”. Menurut ajaran ini, tidak ada satupun hal yang hadir (ku) dengan sendirinya karena semua hal hadir secara sementara (ke) tergantung dari keberadaan hal lainnya; oleh karena itu, kita harus memandang semua hal secara menyeluruh (chu).

Mari kita ambil sebuah meja sebagai perumpamaan. Sebuah meja haruslah memiliki permukaan datar yang ditopang oleh keempat kakinya. Jika saya melepaskan masing-masing kaki ini, benda tersebut tidaklah lagi disebut sebagai meja; hanyalah sepotong papan kayu. Oleh karena itu, benda-benda seperti meja, hanya hadir bersifat sementara.

Sebuah contoh lain: Saya ada hari ini karena orang tua saya ada. Saya juga ada karena udara, air, panas, makanan, dan orang lain. Jika tidak ada udara, air, makanan, atau orang lain, saya tidak mungkin ada. Maka dari itu saya ada sementara karena ada udara, air, makanan, dan orang lain.

Cara lain untuk memandang semua hal dengan 3 cara berbeda, sesuai ajaran Sang Buddha, semua orang adalah sama/setara (ku) karena semua orang memiliki jiwa Buddha, tetapi semua orang juga berbeda (ke) karena ada orang yang bijak dan bodoh, ada yang kaya dan miskin, pria dan wanita. Wanita memiliki keistimewaan karena mampu melahirkan sedangkan pria tidak. Kita semua adalah setara tetapi berbeda-beda (chu).

Meski semua orang memiliki sebuah hidung, mulut, dan mata (ku), bentuk kesemuanya itu berbeda-beda sama halnya seperti sisik jari (ke). Oleh sebab itulah kita adalah setara tetapi berbeda-beda (chu).

Orang tua mencintai anak-anaknya sama rata (ku), tetapi cara mereka memperlakukan anak laki-laki berusia 18 tahun akan dengan sendirinya berbeda dengan perlakuan terhadap anak perempuan berusia 2 tahun (ke). Jika sang orang tua memberi mereka berdua makanan dalam jumlah yang sama, hal ini justru tidaklah wajar. Orang tua mencintai anaknya sama rata, tetapi mereka akan memperlakukan masing-masing anak berbeda sesuai usia, jenis kelamin, dan minat sang anak. Orang tua yang bijaksana memperlakukan anak-anaknya secara menyeluruh untuk tiap-tiap individu (chu).

Oleh karena itu, perdamaian dan kebahagiaan tidak akan pernah terwujud jika kita hanya memaksakan kesetaraan semata atau perbedaan semata. Kita harus mampu meyadari persamaan dalam perbedaan-perbedaan, dan perbedaan-perbedaan dalam kesetaraan. Mengetahui perbedaan tiap-tiap orang, tetapi tetap menghormati minat, bakat, pendidikan, serta kondisi fisik mereka adalah jalan menuju perdamaian dan harmoni.

Untuk mengingatkan diri kita atas ajaran inilah, kita mengulang bait terakhir dari bab Hoben-pon sebanyak tiga kali.

UPACARA “TIGA PENOLAKAN DAN TIGA PERMOHONAN”

Pada permulaan Bab. dua, Buddha Sakyamuni berkata bahwa Ia tidak akan berkata-kata lagi tentang kebenaran tertinggi yang dicapai oleh para Buddha karena hal ini terlampau sukar untuk dipahami selain oleh Buddha. Akan tetapi, Sariputra, murid terbijak diantara kesemua murid Buddha Sakyamuni, bersikeras untuk mendengar Dharma tersebut dan tiga kali mengajukan permohonan kepada Sang Buddha untuk membabarkan Saddharma Pundarika Sutra.

Penolakan Pertama Sakyamuni: “Tidak lagi, Sâriputra, Aku akan berkata karena Dharma yang dicapai oleh Buddha adalah Kebenaran yang tertinggi, yang langka untuk didengar, dan yang sulit untuk dimengerti.” (P.24, L.4) Permohonan Pertama Sâriputra: “Jelaskanlah semua ini! Kenapa Anda begitu tinggi memuji Dharma ini? “ (P.28, L.4)

Penolakan Kedua: “Tidak,tidak, tidak akan Aku lakukan. Jika Aku melakukannya, semua dewa dan manusia di dunia akan ketakutan dan kebingungan.” (P.29, L. 17) Permohonan Kedua: “Jelaskanlah! Jelaskanlah!” (P.29, L.25)

Penolakan Ketiga: “Tidak. Jika Kulakukan, semua dewa, manusia, dan asura di dunia akan ketakutan dan kebingungan dan bhiksu-bhiksu yang tinggi hati akan terjatuh dalam lubang yang amat dalam. “ (P.30, L.4) Permohonan Ketiga: “Yang Dimuliakan-sedunia! Babarkanlah Dharma ini, babarkanlah Dharma ini!” (P.30, L.18)

Dengan itu, Sâriputra meyakinkan Sang Buddha untuk membabarkan Kebenaran Tertinggi “Engkau memohon kepadaKu tiga kali dengan begitu bersemangat. Bagaimana mungkin akan Kubiarkan Dharma ini tidak terbabarkan?” (P.31, L. 8)

5,000 Orang yang Sombong Pergi

Pada saat itu, 5.000 orang-orang sombong yang mengira bahwa mereka telah memahami Kebenaran tertinggi pergi meninggalkan tempat itu:

“Lima ribu orang diantara para bhiksu, bhiksuni, upasaka, dan upasika dari pesamuan ini bangkit berdiri dari tempat duduk mereka, membungkuk kepada Sang Buddha, dan pergi karena mereka begitu berdosa dan tinggi hati hingga mereka mengira bahwa mereka telah mendapatkan apa yang sesungguhnya belum mereka dapatkan, dan memahami apa yang sesungguhnya belum mereka pahami.” (P.31, L.11)

Buddha Sakyamuni menunjukkan kesabaran dan welas asihNya yang tak terbatas kepada orang-orang yang sombong ini. Kita haruslah selalu rendah hati ketika menemui ajaran Sang Buddha dan kita seharusnya selalu berusaha mencari ajaran tertinggi dari Sang Buddha.

Kedatangan Sang Buddha (P.32, L. – 11):

Seusai upacara “Tiga Penolakan dan Tiga Permohonan”, Sang Buddha membabarkan ajaran tentang Satu Tujuan Agung dari Kemunculan Sang Buddha ke dunia ini. Adalah tugas kita untuk membuka pintu wawasan dari Sang Buddha, untuk mensucikan diri kita sendiri, untuk memperoleh pengetahuan Sang Buddha, dan memasuki jalan menuju pengetahuan Sang Buddha. Ada suatu alasan tersendiri mengapa setiap orang dari kita terlahir dan hidup di jaman sekarang ini. Konsekwensinya, kita semua memiliki peran yang berbeda-beda dalam dunia ini dan untuk mencapai tujuan tertentu. Jika kita bisa menyadari tujuan unik hidup kita ini, setiap harinya akan menjadi penuh makna.

Wawasan/Pengetahuan Sang Buddha (P.32, L.4):

Yakni untuk memahami kebijaksanaan Sang Buddha atau kenyataan dari semua hal yang ada. Semua hal selalu berubah secara terus menerus. Sebagai contoh, kita berada dalam suatu proses berkesinambungan dari kelahiran menuju ke kematian. Lahir, usia tua, penyakit, dan kematian adalah semua bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Oleh karena itu, baik kebahagiaan ataupun ketidak bahagiaan tidak akan dapat berlangsung selamanya. Kita harus selalu siap menghadapi apa yang akan terjadi di masa mendatang.

Semua hal ada karena hubungannya dengan hal lainnya; maka dari itu mereka sendiri tidak memiliki hakekat. Sebagai contoh, kita tidak dapat hidup tanpa makanan, air, dan udara. Kita tidak dapat terlahir tanpa orang tua. Anda tidak dapat membuat sendiri apa yang sedang anda kenakan saat ini. Semua mahkluk dan semua hal saling tergantung satu dengan lainnya. Oleh sebab itu, kita memiliki kewajiban untuk selalu menghargai orang lain. Kita mengatupkan kedua tangan kita dengan hormat kepada orang lain dan sebagai tanda penghargaan kita berkata, “Karena andalah, saya bisa ada hari ini!”

SATU KENDARAAN, DUA,  ATAU TIGA?

Tiga Kendaraan adalah sebagai berikut:

1. Sravaka atau pendengar (Shomon): dimana seseorang memahami Buddhisme dengan cara mendengarkan pembicaraan orang lain.

2. Pratyekabuddha or Buddha pribadi (Engaku): dimana seseorang memahami Buddhisme untuk dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-harinya.

3. Bodhisattva (Bosatsu): dimana seseorang mencari Penerangan dan juga berusaha membimbing orang lain mencapai Kebuddhaan.

Semua mahkluk hidup memiliki berbagai macam keinginan dan keterikatan jauh di dalam pikiran mereka. Oleh sebab itu, para Buddha membabarkan pelbagai ajaran untuk mereka dengan cerita-cerita kehidupan di masa lampau, perumpamaan, perbandingan, dan ceramah-ceramah. Atau dengan kata lain, Mereka membabarkan Buddhisme dengan berbagai sarana sesuai keadaan mereka. Buddhisme tampaknya memiliki banyak kendaraan, tetapi Buddha menjelaskan bahwa sesungguhnya hanya ada satu Kendaraan Tunggal

“Aku membabarkan berbagai ajaran kepada semua mahkluk hidup hanya demi untuk mengungkapkan Kendaraan Tunggal Buddha. Tiada ada kendaraan lain, tidak kedua maupun ketiga.” (P.32, LL. 16-18)
Ia melanjutkan, “Aku melakukan ini semua demi tujuan menyadarkan mereka kepada ajaran dari Kendaran Tunggal Buddha, yakni untuk memperoleh pengetahuan tentang kesetaraan dan perbedaan semua hal, Sariputra! Tidak ada kendaraan kedua di sepulh penjuru dunia lainnya. Bagaimana mungkin bisa ada yang ketiga?” (P.33, LL. 14-18)

Lebih lanjut Ia menjelaskan, “Mahkluk hidup begitu penuh dengan ilusi, begitu tamak, dan begitu dengki sehingga mereka menanam begitu banyak akar iblis. Maka dari itu, para Buddha membagi Kendaraan Tunggal Buddha menjadi tiga sebagai suatu upaya kausalya.” (P.33, LL. 23-26) “Aku membabarkan ajaran tentang Tiga Kendaraan hanyalah sebagai suatu upaya kausalya.” (P.39, LL.5-6)

Shingyo Suguro menjelaskan Ketiga Kendaraan dalam bukunya, Pengenalan terhadap Saddharma Pundarika Sutra, “Karena Ketiga Kendaran melambangkan semua aliran Buddhisme terpadu melalui prinsip ini, Kendaraan Tunggal juga bisa berarti kesatuan dari semua agama yang ada di dunia, baik non-Buddhis maupun Buddhis. Akan tetapi dalam kenyataannya, kita semua tinggal di dunia yang relatif. Kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa perbedaan pendapat dan perbedaan pemahaman selalu ada di dunia ini. Menurut Saddharma Pundarika Sutra, keaneka ragaman pendapat ini haruslah dihargai dan dipahami sebagai langkah nyata yang kita ambil di atas jalan menuju kebenaran dan nilai tertinggi yang diidealkan oleh manusia.”

PENJELASAN:

Sutra-sutra dari Buddhisme Theravada mendiskusikan secara mendetail tentang bagaimana seharusnya seseorang bersikap secara bijaksana. Oleh sebab itu, orang-orang di masa selanjutnya menyebut sutra-sutra tersebut sebagai Kendaraan yang Kurang dari yang lainnya. Sutra-sutra Buddhisme Mahayana menghasilkan sejumlah besar spekulasi filosofi dan keselamatan untuk semua mahkluk hidup; oleh sebab itu sutra ini dikenal sebagai Kendaraan Agung. Meski Buddha Sakyamuni membabarkan berbagai ajaran sesuai tingkat pemahaman dari pendengarNya, tujuan utamanya adalah agar semua mahkluk hidup menjadi sama seperti Buddha. Saddharma Pundarika Sutra mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan dalam hal tujuan dari Ketiga Kendaraan (Shomon, Engaku, dan Bosatsu), ataupun dari Kendaraan yang Kurang dari yang Lainnya atau Kendaraan Agung. Dengan kata lain, ada begitu banyak cara untuk diajarkan, akan tetapi hanya ada satu tujuan, yakni pencapaian Kebuddhaan. Tetapi tidak pula berarti bahwa semua cara adalah baik. Ajaran Theravada haruslah dibawa menuju tingkatan yang lebih tinggi. Menjaga moralitas adalah baik, tetapi menjaga hanya demi diri sendiri tidaklah cukup. Haruslah disadari bahwa adalah kepribadian yang lebih tinggi daripada hanya sekedar memelihara moralitas.

Bagaimana seseorang bisa membimbing orang lain menuju Kendaraan Tunggal? Shaku-buku atau Sho-ju? Shaku-buku berarti mengalahkan iblis dengan agresif. “Apa yang Anda lakukan adalah salah. Jadi lakukanlah seperti yang kulakukan yang selalu benar!”

Sho-ju berarti menerima atau merangkul orang lain dengan penuh kehangatan, “Anda benar, tetapi masih ada jalan lain yang lebih baik.”

Sebagai contoh: Ada sepuluh lantai yang menuju ke atap. Seseorang berada di lantai tertingggi dan ingin agar orang lain juga naik ke lantai tersebut. Seorang yang melaksanakan shaku-buku akan berkata, “Kamu bodoh tinggal di lantai lima. Cepat naik ke atas seperti yang telah kulakukan!” Seorang yang melaksanakan Sho-ju akan berkata, “Tidak mengapa tinggal di lantai lima, tetapi lantai tertinggi jauh lebih baik lagi, jadi cepatlah naik kemari.”

Sutra-sutra sebelum Saddharma Pundarika Sutra membagi ketiga kendaraan menjadi Sravaka, Pratekyabuddha, dan Bodhisattva. Sang Buddha berkata di sutra-sutra ini bahwa orang-orang yang berada pada golongan Sravaka dan Pratekyabuddha tidak bisa mencapai Kebuddhaan. Akan tetapi, Ia tidak bermaksud meninggalkan orang-orang dari kedua kendaran tersebut. Yang Ia maksudkan adalah seseorang tidak boleh menjadi puas akan tingkatan-tingkatan ini, tetapi masih ada tingkatan tertinggi yakni pencapaian Kebuddhaan seperti yang telah Ia capai.

Maka Sang Buddha berkata dalam Saddharma Pundarika Sutra, “Ketahuilah, wahai Sariputra! Aku pernah bersumpah bahwa Aku akan membuat semua mahkluk hidup menjadi sama persis seperti Aku.” (P.37, LL.24-27)

APA SAJAKAH PELAKSANAAN UNTUK MENCAPAI KE-BUDDHAAN ?

Mendirikan stupa (tempat pemujaan). Membuat stupa Buddha dengan timbunan pasir. Mengukir gambar Sang Buddha. Membuat patung Buddha. Menggambar  atau menyebabkan orang lain menggambar lukisan berwarna Sang Buddha. Mempersembahkan bebungaan, dupa, pita, dan tudung kepada patung atau gambar Sang Buddha. Membungkuk kepada gambar Sang Buddha atau hanya sekedar mengatupkan kedua belah tangan menghadapnya. Atau membuat orang lain melakukan hal yang sama.
Shingyo Suguro mengatakan dalam bukunya, “Ajaran ini menyatakan bahwa ketika seseorang menunjukkan kepercayaan yang tulus dan sungguh-sungguh kepada Sang Buddha dengan melakukan perbuatan baik, tidak peduli seberapa pun kecilnya, tindakan ini akan mengarahkannya kepada jalan pencapaian Kebuddhaan, dan ia kelak pasti akan menjadi seorang Buddha. Meski orang ini belumlah menjadi Buddha, ia sedang dalam prosesnya, dan layak memperoleh penghormatan sebagai calon Buddha.” SELESAI

About the Author

error: Sorry, Content is protected !! Contact Admin for Permition