Published On: Thu, Mar 3rd, 2016

Bab 3 Perumpamaan “Saddharma Pundarika Sutra”

TerataiBAB III
KIASAN DAN PERUMPAMAAN


RINGKASAN

Bab 2 membahas tentang jiwa Buddha setiap orang yang terpendam. Semua orang yang melaksanakan jalan Bodhisattva akan mampu mencapai Kebuddhaan Ketika para peserta pesamuan mendengar hal ini dari sang Buddha Sakyamuni, mereka begitu berbahagia mendengar ajaran Kendaraan Tunggal ini, yang mana belum pernah mereka dengar sebelumnya. Orang-orang dari golongan shomon dan engaku begitu bergembiranya hingga mereka mulai menari-nari karena sebelumnya mereka diajarkan bahwa orang-orang dari kedua golongan ini tidak akan bisa mencapai Kebuddhaan.

Akan tetapi dalam bab 3, Sariputra dipastikan bahwa kelak ia akan menjadi seorang Buddha dengan gelar Buddha Cahaya Bunga, jika ia terus melaksanakan pertapaan Kendaraan Tunggal Buddha.

Ajaran teoritis tentang Kendaraan Buddha Tunggal yang telah dibabarkan dalam Bab 2 diilustrasikan melalui sebuah perumpamaan berjudul “Tiga Pedati Mainan dan Rumah yang Terbakar” dalam Bab 3.

 Penjelasan

“Kepastian akan masa depan Kebuddhaan mereka” (P.51, L.9) :

Ini adalah sebuah sertifikat untuk menjadi seorang Buddha. Bukan sebuah ijazah tapi lebih seperti sebuah sertifikat karena telah lulus dari  perguruan tinggi. Jika Anda memenuhi persyaratan seperti ini dan itu, maka Anda akan menjadi seorang Buddha. Apa sajakah persyaratan yang dimaksud? Yakni jalan pertapaan Bodhisattva, pencarian kebenaran, dan membimbing orang lain kepada kebenaran tersebut.

“Aku adalah putramu. Aku lahir dari mulutmu.” (P.51, baris bawah)

Semua Buddhis adalah pengikut ajaran sang Buddha. Dengan kata lain, kita dilahirkan kembali melalui ajaran-ajaran sang Buddha. Buddha Sakayamuni adalah ayah kita. Kita adalah anak-anakNya; oleh karena itu kita mewarisi segala ajaran dan kebaikanNya, dan kita menyebarkannya kepada orang lain. Ini adalah tugas kita.

“Di bawah dua milyar Buddha-Buddha di masa lampau, Aku selalu mengajarmu agar mampu mencapai penerangan yang tak tertandingi” (P.55, L.17) :

Konsep tentang Buddha Abadi, yang akan diungkapkan dalam Bab 16 Saddharma Pundarika Sutra, telah ditunjukkan dalam bab ini. Lebih detailnya akan dibahas pada bab 16.

Tiga Kehidupan Sariputra

Kehidupannya yang  Lampau: “Di bawah dua milyar Buddha-Buddha di masa lampau, Aku selalu mengajarmu agar mampu mencapai penerangan yang tak tertandingi. Engkau berguru di bawahKu.” (P.55, LL.17-20)

Kehidupannya yang Sekarang: “Oleh sebab itu, Engkau di kehidupanmu yang sekarang berada di bawahKu…. Engkau telah melupakan semua ini…. Untuk membuatmu mengingat jalan yang telah kau laksanakan di bawah sumpah asal mu, sekarang Aku membabarkan Sravaka dalam sutra ini.” (P.55, LL.20-26)

Kehidupannya di Masa Depan: “Setelah kalpa yang tak terhitung dan tak terbayangkan jumlahnya dari saat sekarang, Kau akan mampu memberi persembahan kepada ribuan dan jutaan Buddha, menjaga ajaran mereka dengan benar, melaksanakan jalan yang dipuji oleh para Bodhisattva, dan menjadi seorang Buddha bergelar Cahaya Bunga.” (P.55, L.29 – P.56, L.3)

Siddharta Gotama dilahirkan di India dan menjadi seorang Buddha dari suku Sakya. Ia membabarkan kebenaran dan upaya kausalya selama 40 tahun. Akan tetapi sesungguhnya, Ia telah menjadi seorang Buddha selama kalpa yang tak terhitung jumlahnya. Sariputra adalah salah satu murid dari Buddha di masa lampau, dan Ia bersumpah mencapai Kebuddhaan pada saat itu. Ia terlahir kembali pada jaman yang sama dengan Buddha Sakyamuni tetapi ia telah melupakan masa lalunya sendiri. Dengan pelaksanaan jalan Bodhisattva yang terus menerus, ia kelak akan mampu menjadi seorang Buddha bergelar Cahaya Bunga.Cerita ini tidak hanya berlaku bagi Sariputra, tetapi juga bagi diri kita. Kita mungkin telah pernah mendengar ajaran Buddha atau Odaimoku Nichiren Shonin dalam kehidupan kita yang lalu.

“Sumpah Asal “ (P.55, L.25):

Adalah sumpah para Bodhisattva di kehidupan lalu. Dalam Buddhisme Mahayana, semua Buddhis menganggap diri mereka Bodhisattva yang berusaha mencapai penerangan sambil membantu orang lain melakukan hal yang sama. Selain sumpah asal, para Bodhisattva memiliki sumpah tertentu tergantung masing-masing individu dan keadaan seperti Empat puluh delapan Sumpah Amida.

Sama halnya, anda mungkin telah menjalankan sumpah asal selama kehidupan lalu anda. Anda juga mungkin memiliki sumpah tertentu dalam kehidupan ini.

EMPAT SUMPAH AGUNG:

1. Mahkluk hidup berperasaan tak terhitung jumlahnya, Aku berjanji akan menyelamatkannya semua.

2. Keinginan iblis kita tak berkesudahan, Aku berjanji akan memusnahkannya semua..

3. Ajaran Buddha tak terukur dalamnya, Aku berjanji akan mempelajarinya semua.

4. Jalan Buddha tak terkalahkan, Aku berjanji mencapai Jalan Mahamulia.

Semua aliran Buddhis menjalankan Empat Janji Agung ini meski kata-katanya akan sedikit berbeda. Meski sumpah ini terdengar begitu sulit, kita harus berusaha memenuhi janji ini sedikit demi sedikit.

“Dharma Agung Sutra Bunga Teratai” (P.55, L.27):

Bunga Teratai melambangkan ajaran sang Buddha. Bunga ini begitu indah dan tak terpengaruh oleh lumpur. Mereka juga memiiki bunga dan biji pada saat bersamaan yang melambangkan hukum sebab, jodoh, dan akibat. Dharma berarti hukum atau kebenaran, terutama Hukum Universal yang mana Buddha mampu mencapai penerangan karena hukum ini. Dharma juga mengandung aturan keluarga, aturan jalan raya, undang-undang negara, sebagai tambahan dari Segel Ketiga Hukum yang membedakan Buddhisme dari agama lainnya. Kita harus mematuhi hukum-hukum ini. “Namu Myoho Renge Kyo” berarti “Aku mengabdikan diriku kepada Dharma Agung Sutra Bunga Teratai”. Oleh sebab itu, mereka yang menyebut Judul Agung ini harus menghormati aturan dan hukum di tempat dimana berada berada, selain juga ajaran Buddha.

“Engkau akan bisa memberikan persembahan kepada ribuan dari jutaan Buddha” (P.55, L.30):

Bagaimana mungkin bagi kita untuk bisa memberi persembahan kepada ribuan dari jutaan Buddha jaman sekarang ini? Ada berapa banyak nama Buddha yang bisa Anda sebut? Coba kita lihat: Sakyamuni, Amida, Mahavairocana, Taho, Buddha Penyembuh, dll. Semua itu hanya lima dari milyaran Buddha yang ada.

Ketika seseorang menyadari Hukum Engi atau asal muasal yang berketergan-tungan, ia disebut seorang Buddha. Nichiren Shonin mengatakan bahwa mereka yang menyebut Odaimoku adalah Buddha. Anda memberi banyak persembahan kepada semua bhikku Nichiren dan umat awam, tidak hanya kepada patung-patung Buddha dan Nichiren di altar. Dengan cara ini, Anda telah memberi persembahan kepada ribuan Buddha.

“Persembahan” (P.55, L.30)

Ada tiga macam persembahan/sumbangan:

1. Persembahan material seperti uang, bunga, dupa, pakaian, dll.,

2. Persembahan tindakan: seperti menjelaskan tentang Buddhisme atau kata-kata Nichiren,

3. Persembahan spiritual seperti mengatupkan kedua belah tangan secara bersamaan kepada Gohonzon, Buddha, bhikku, dll.

“Para Bodhisattva tersebut bukanlah baru saja mulai berkeinginan kuat untuk mencapai penerangan. Jauh sebelum ini mereka telah mulai menanam akar-akar kebajikan…” (P. 56, L.25-L.29)

Kita tidak mendengar Saddharma Pundarika Sutra untuk pertama kalinya dalam kehidupan kali ini. Kita sebelumnya telah memiliki hubungan khusus dengan sutra ini dalam kehidupan sebelumnya. Untuk alasan yang sama inilah, apakah kita bahagia atau tidak hari ini, adalah tergantung dari sebab yang telah kita ciptakan di masa lalu. Jangan mencoba menyalahkan orang lain. Meski Anda merasa tidak bahagia saat ini, cobalah untuk mengubah cara hidup Anda dengan kekuatan Odaimoku dan Saddharma Pundarika Sutra. Anda mungkin saja bisa merubah karakter anda ataupun tidak, tapi yang pasti Anda bisa mengubah cara hidup Anda. Akibatnya, masa depan Anda pasti akan menjadi cerah.

“Ajaran tentang Empat Kebenaran “ (P.59, L.16)

Empat Kesunyataan Mulia: adalah sebuah konsep mendasar dalam Buddhisme yang menjelaskan sebab dari penderitaan dan jalan untuk membebaskan diri kita dari penderitaan. Ini adalah salah satu ajaran awal yang dibabarkan Buddha Sakyamuni setelah Ia mencapai Penerangan:

1. Ku-tai atau “Semua keberadaan adalah penderitaan”: Hidup kita penuh dengan penderitaan seperti kelahiran, penyakit, usia tua, kematian, berpisah dengan yang dicintai, berkumpul dengan yang dibenci, tidak memperoleh apa yang diinginkan, dsb.

2. Jit-tai atau “Penyebab penderitaan adalah ilusi dan keinginan”: Kita setiap harinya menlihat begitu banyak berita duka di koran, tapi kita tidak merasa menderita melihat pengumuman tersebut. Akan tetapi kita merasa berduka tatkala kita mengetahui bahwa seseorang yang kita kenal meninggal, karena kita memiliki keterikatan terhadap orang itu.

3. Met-tai atau “Nirvana adalah alam/kondisi yang bebas dari penderitaan”: Ketika kita mampu memusnahkan penderitaan, disitulah Nirvana.

4. Do-tai atau “Jalan untuk melenyapkan penderitaan”: Kita melaksanakan Jalan Beruas Delapan yakni Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Tindakan Benar, Penghidupan Benar, Upaya Benar, Kewaspadaan Benar, dan Meditasi Benar.

Empat Kesunyataan Mulia pada khususnya ditekankan di Hinayana. Seorang yang mengejar kebenaran ini disebut shomon atau pendengar.

PERUMPAMAAN TENTANG TIGA PEDATI DAN RUMAH YANG TERBAKAR (P.61, L.2 – P.63, L.21)

Dahulu kala, seorang yang kaya tinggal di sebuah desa. Kekayaannya tidak terukur. Ia memiliki banyak ladang padi, rumah, dan pelayan. Rumahnya begitu besar, akan tetapi hanya memiliki satu pintu keluar. Dalam rumah itu tinggal ratusan orang. Gedungnya telah rusak, pagar dan dindingnya telah rapuh, dasar dari tiang rumahnya telah lapuk, dan balok dan kuda-kuda atapnya bengkok dan goyah. Tiba-tiba saja, timbul kebakaran dan segera menyebar ke seluruh penjuru rumah. Dalam rumah ini juga tinggal banyak anak dari orang kaya tersebut. Ia amat takut akan kebakaran besar ini dan berpikir, “Aku mampu keluar dari rumah yang terbakar ini dengan aman, tapi anak-anakku masih di dalam. Pikiran mereka tenggelam dalam permaianan. Mereka tidak mengetahui kalau api sedang menuju ke arah mereka. Mereka tidak takut atau khawatir. Mereka tidak mengetahui apa itu kebakaran.”

“Rumah ini hanya memiliki satu pintu gerbang. Lebih parah lagi, gerbangnya kecil dan sempit. Anak-anakku terlalu kecil untuk mengetahui hal ini. Mereka terikat kepada tempat dimana mereka sedang bermain. Mereka bisa terbakar. Aku sebaiknya memberitahu mereka akan bahaya ini. Mereka harus keluar secepatnya, agar tidak mati terbakar.”

“Cepatlah keluar!”, ia memperingatkan mereka dengan kata-kata yang penuh kasih, akan tetapi mereka telalu larut dalam bermain hingga tidak mendengar kata-kata ayahnya. Mereka tidak ingin keluar. Mereka berlarian dengan gembiranya. Mereka hanya melirik kepada ayahnya sesekali. “Jika mereka dan saku tidak segera keluar, kita akan terbakar. Aku harus menyelamatkan mereka dari bahaya ini dengan suatu cara upaya.”

Ia berkata kepada mereka, “Mainan yang kalian inginkan ada di luar pintu pagar. Ada pedati domba, pedati rusa, dan pedati kerbau. Kalian bisa bermain-main dengannya. Cepatlah keluar dari rumah yang terbakar ini segera!”

Anak-anak itu berlarian keluar segera dari rumah yang terbakar, saling dorong-mendorong satu sama lainnya karena masing-masing ingin menjadi yang pertama. Orang kaya yang melihat mereka semua telah keluar dengan selamat, menjadi lega dan menari penuh kegembiraan. Mereka berkata kepada ayahnya, “Ayah! Berikan kepada kami maianan itu! Berikan kami pedati domba, rusa, dan kerbau yang kau janjikan kepada kam!”

Kemudian orang kaya tersebut memberi mereka masing-masing sebuah PEDATI SAPI PUTIH BESAR yang sama ukurannya. Pedati tersebut tinggi, lebar dan besar, dihiasi dengan berbagai harta karun, dan memiliki lonceng yang tergantung di keempat sisinya. Orang hebat ini memberikan setiap pedati tersebut kepada masing-masing anak-anaknya karena kekayaannya begitu tak terukur hingga semua toko-tokonya dipenuhi segala jenis harta karun.

Anak-anak tersebut naik ke atas pedati besar, bergembira karena mereka belum pernah naik pedati seperti ini, dan tidak pernah mengira akan menerima hadiah yang sedemikian mewahnya.

PENJELASAN:

1. Rumah yang terbakar: melambangkan bahwa dunia ini dipenuhi dengan berbagai penderitaan.

2. Anak-anak: melambangkan orang-orang yang masa bodoh yang tidak menyadari bahwa kematian mendatangi setiap orang.

3. Kebakaran: melambangkan bahwa kematian datang sama rata kepada baik kepada orang kaya, miskin, bijak, maupun bodoh.

4. Satu-satunya pintu gerbang yang sempit: melambangkan bahwa keselamatan bukanlah hal yang mudah dicapai.

5. Anak-anak yang berlarian keluar: Anda harus melakukannya sendiri. Agama adalah sebuah alam yang hanya bisa dialami sendiri.

6. Pedati domba: melambangkan kendaraan kaum shomon

Pedati rusa: melambangkan kendaraan kaum engaku

Pedati kerbau: melambangkan kendaraan kaumBodhisattva

7. Pedati sapi besar: melambangkan kendaaran Buddha Tunggal, Saddharma Pundarika Sutra

8. Orang yang kaya: melambangkan Buddha Sâkyamuni

Perumpamaan ini menjelaskan bahwa Buddhisme adalah ajaran yang diperuntukkan bagi kita yang bisa membuat kita menghapus ketidak bahagiaan dan menikmati kebahagiaan. Kebahagiaan sejati adalah bersuka cita membantu orang lain dan memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Ini adalah pelaksanaan dari Kendaraan Buddha Tunggal.

“Ketiga dunia tidaklah tentram. Dunia itu bagaikan rumah yang terbakar. Dunia itu penuh dengan penderitaan. Dunia itu mengerikan”: (P.75, L.17)

Ketiga dunia adalah dunia para manusia yang belum mencapai penerangan.

Dunia tersebut dibagi menjadi tiga:

I. Dunia keinginan/hasrat, dimana para penghuninya memiliki nafsu makan dan seksual.

II. Dunia bentuk, dimana para penghuninya tidak memiliki baik nafsu makan ataupun seksual seperti batu-batuan dan tumbuh-tumbuhan.

III. Dunia tanpa bentuk, dimana para penghuninya tidak memiliki bentuk fisik, seperti udara, gas.

Kita tinggal di ketiga dunia dari rumah yang terbakar ini dengan dipenuhi penderitaan. Buddhisme dimulai dengan konsep bahwa “Semua keberadaan adalah penderitaan”. Orang mungkin berpikir bahwa Buddhisme terlalu pesimistis, akan tetapi tidaklah demikian. Penderitaan biologis adalah bagian dari proses kehidupan. Buddhisme mengajarkan kepada kita bagaimana menanggapi penderitaan.

“Selalu ada penderitaan akan kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Semua ini bagaikan nyala api yang berkobar tiada akhirnya.” (P.75, L.21-L.24)

Terdapat delapan jenis penderitaan termasuk keempat di atas. Keempat lainnya adalah:

penderitaan akibat dipisahkan dari yang dicintai,

penderitaan akibat berkumpul dengan orang yang dibenci,

penderitaan karena tidak mampu mendapat apa yang diinginkan, dan

penderitaan yang timbul akibat keterikatan kepada kelima bahan elemental penyusun tubuh, pikiran, dan lingkungan seseorang.

Shinjo Suguro, pengarang dari Pengenaalan kepada Sutra Bunga Teratai mengatakan, “’Semua keberadaan adalah penderitaan’ bukanlah sudut pandang yang pesimis terhadap kehidupan. Akan tetapi, lebih kepada gambaran yang berlawanan akan sudut pandang positif—berusaha untuk hidup lebih baik… usaha membentuk dunia tanpa konflik dimana setiap individu menganggap kebahagiaan dan kepentingan orang lain adalah sama seperti miliknya. Inilah yang dimaksud dengan Tanah Suci Buddha.”

Ketiga Kebajikan Buddha

Menurut Nichiren Shonin, Buddha Abadi Sakyamuni memiliki ketiga kebajikan sebagai majikan, guru, dan orang tua. Dalam gatha/bait bab “Sebuah Perumpamaan” hal ini jelas dinyatakan.

“Ketiga dunia ini adalah milikKu’ (P.75, dua baris terakhir)

Sang Buddha adalah majikan yang harus kita semua patuhi.

“Semua mahkluk hidup di sana adalah anak-anakKu.” (P.76, L.1)

Sang Buddha adalah orang tua kita yang memperhatikan kita tanpa batas.

“Hanya Akulah yang bisa menyelamatkan semua mahkluk hidup.” (P.76, L.5)

Sang Buddha adalah guru kita yang perkataanNya harus kita pelajari.

Nichiren Shonin menjelaskan konsep Buddha Abadi lebih dekat kepada kita; sang Buddha sebagai majikan, orang tua, dan guru. Adalah penting bagi seorang pemimpin untuk memiliki ketiga kebajikan ini. Para orang tua harus juga memiliki dan mempertahankan ketiga kebajikan ini, sama halnya juga seperti para bhikku. SELESAI

Sumber:

Seri Penjelasan Saddharma Pundarika Sutra
Oleh: YM.Bhiksu Shokai Kanai
Sumber Acuan: Buku “The Lotus Sutra” By Senchu Murano
Diterjemahkan oleh: Sidin Ong

About the Author

error: Sorry, Content is protected !! Contact Admin for Permition