Published On: Thu, Mar 3rd, 2016

Studi Wisata Ke Laos 4-13 September 2005

nshu laosSTUDI WISATA KE LAOS

Dari 4-13 September, studi wisata ke tempat bantuan untuk pembangunan Sekolah Laotian yang sedang dilaksanakan di Propinsi Champassak, Laos, dibawah pengawasan dari Nichiren Shu Pusat. Berkerjasama dengan BAC: Buddhist Aid Center (Ketua: Rev. Katsu Ito dari Kuil Kannoji, Shizuoka), Proyek ini dibuat untuk mendidik para pemimpin muda untuk masa depan dan menyebarluaskan misi dari Nichiren Shu melalui proyek nyata pembangunan sekolah.

BAC, bekerjasama dengan  Departemen Pendidikan di Laos, telah merencanakan proyek pembangunan sekolah ini sejak tahun 1993. Sekolah ini terdiri dari 2 atau 5 ruang kelas membutuhkan biaya sebesar 3.000.000,- Yen, dan mendapatkan bantuan dari Nichiren Shu dan kuil-kuil lain, Tendai Shu, Universitas dan para donatur lainnya. BAC telah berhasil mencapai tujuannya dengan membangun 108 sekolah pada akhir desember dan tempat studi wisata ini adalah yang ke 111, atau yang ke-32 bagi Nichiren Shu.

Karena kurangnya anggaran, Departemen Pendidikan Laos mencari bantuan dari negara asing untuk membantu membangun dan merenovasi fasilitas pendidikan. Nichiren Shu, disamping alasan tersebut diatas, melakukan koordinasi untuk mengadakan studi wisata agar mendapatkan dukungan internasional melalui para Bhiksu Nichiren Shu dan untuk menemukan penganti mereka pada masa mendatang. Kali ini, sembilan orang peserta dari Nichiren Shu termasuk para pelajar sekitar 20 orang ikut bergabung dalam wisata ini.

Pada tanggal 3 pebruari, jam 18:30 mereka melaksanakan upacara di International Service Tokyo, disponsori oleh Departemen Misionaris, Nichiren Shu Pusat. Besoknya mereka meninggalkan Bandara Narita ke Bangkok, kemudian pada malam harinya dengan kereta api dan bus dari Bangkok ke Laos.

nshu laosTujuan perjalanan ini adalah sebuah perkampungan kecil di daerah sungai Mekong di Propinsi Champassak, yang terletak di selatan Laos. Dekat dengan perkampungan tersebut terdapat kuil bernama Vat Phou yang tercatat sebagai salah satu cagar budaya dan pusaka dunia. Perkampungan ini mempunyai sebuah sekolah taman kanak-kanak, namun sudah tua dan rusak, dan anak-anak perkampungan itu menunggu sebuah sekolah baru. Mulai 8 pebruari, kontruksi pembangunan segera dimulai dan pengerjaan lantai pondasi terus berlangsung dibawah terik matahari sekitar 30 derajat. Hari berikutnya, para peserta mengalami pegal-pegal otot karena ikut serta dalam mengecat, meskipun demikian terasa gembira melihat wajah anak-anak perkampungan yang ceria melihat sekolah baru mereka.

Pada pagi hari berikutnya pengerjaan pondasi telah selesai dilakukan, dan mereka memulai pemasangan batu bata dan kerangka bangunan. Komunikasi dengan para pekerja dan penduduk setempat hanya dengan kata-kata Laotian sederhana dan bahasa tubuh, para peserta belajar dari para pekerja setempat tentang bagaimana cara pemasangan batu bata. Pada hari ketiga mereka sudah mengerti apa yang harus dilakukan dan bekerja. Pada siang harinya, para peserta bermain bola voli dengan para penduduk untuk membangun hubungan antar mereka. Setelah dinding batu bata selesai, pada siang hari tanggal 11 perbuari, acara presentasi tentang sekolah dilaksanakan. Para peserta mengikuti upacara animistik “Bashi” dan meminum anggur lokal “Laolao”. Para penduduk, anak-anak dan staf sekolah menari dalam sebuah dansa Laotian yang disebut “Lam Vong,” menunjukkan keramahtamahan mereka. Sebagai balasannya para peserta studi wisata mempersembahkan tarian Jepang, “Tokyoondo” dan “Tanko-bushi”. Semua orang menikmati acara tersebut, beberapa peserta tour terlihat menangis gembira.

Salah satu peserta studi wisata Rev. Kisho Namioka dari Kuil Hommyoji, Hokkaido berkata, “Laos bukanlah sebuah negara yang kaya, namun orang-orang disini tidak berpikir bahwa mereka miskin dan tidak bahagia. Saya datang untuk mengetahui bahwa bantuan Internasional atau Pekerjaan NGO adalah sangat sulit, kadang-kadang mereka mendapatkan tantangan dari para penduduk setempat. Sekalipun negara tempat kita tinggal berbeda, hubungan diantara kita baik peserta dan penduduk setempat memberikan banyak makna bagi ku pada saat ini. Aku akan ikut bergabung lagi dalam acara studi wisata seperti ini.” Acara ini akan dilaksanakan setiap tahun. SELESAI.

(Oleh Rev. Dairyo Tomikawa)

About the Author

error: Sorry, Content is protected !! Contact Admin for Permition