Published On: Sat, Mar 5th, 2016

Shimon Butsujo Gi

shimon butsujo giBuku “Writing Of Nichiren Shonin” Doctrine 2
Edited by George Tanabe.Jr, Compiled by Kyotsu Hori
Terbitan : Nichiren  Shu Overseas Propagation Promotion Association, Tokyo – Japan
Diterjemahkan oleh Sidin Ong

SHIMON BUTSUJO-GI
Hal. 245

Pengenalan

Surat ini ditulis untuk Tuan Toki, pada tahun Kenji Ke-4 (1278) di Gunung Minobu. Surat aslinya masih tersimpan dengan baik di Kuil Hokekyoji di Nakayama, Propinsi Chiba (Baca tentang Kuil ini pada Buletin Edisi Maret 2005). Ini merupakan surat balasan untuk menyatakan rasa terima kasih kepada Tuan Toki atas sumbangannya dalam rangka peringatan kematian ibunya. Surat ini juga mendiskusikan sebuah konsep Buddhisme yang penting. Ajaran Saddharma Pundarika Sutra mencakup dua jenis pelaksanaan, yang terdiri atas ‘Bibit Jurui’ dan ‘Bibit Sotai’ untuk mencapai KeBuddhaan. Surat ini secara jelas menyatakan bahwa apa yang kita ketahui sebagai hawa nafsu, karma, dan penderitaan dari ajaran sebelum Saddharma Pundarika Sutra, termasuk paruh awal dari Saddharma Pundarika Sutra, dapat berubah ke dalam Tiga Kebajikan: Badan Dharma, Kebijaksanaan dan Kesadaran. Konsep ini hanya dapat kita temukan dalam Saddharma Pundarika Sutra, kata Nichiren Shonin, dan melalui hal inilah kita dapat mencapai KeBuddhaan dengan badan kita saat sekarang.

MAKNA AJARAN BUDDHAYANA YANG PERTAMA KALI DIDENGAR

Uang 7 ikat telah kami terima disini, Propinsi Kai yang dikirimkan dari Propinsi Shimofusa. Kita menerima ini sebagai persembahan untuk peringatan tiga tahun kematian ibumu tercinta.

Pertanyaan: Pada bagian awal dari Maka Shikan, Maha Guru Chang-an memuji dengan berkata, “Kita tidak pernah mendengar tentang ajaran yang disebut Kedamaian dan Perenungan Maka Shikan.” Apa arti dari pernyataan ini?

Jawab: ini merupakan pujian kepada meditasi Sempurna dan Seketika, salah satu dari tiga konsep meditasi dari Maha Guru T’ien-t’ai: Bertahap, Dapat Berubah, dan Sempurna dan Seketika.

Pertanyaan: Apa itu meditasi Sempurna dan Seketika?

Jawab: Ini adalah nama lain dari meditasi Saddharma Pundarika

Pertanyaan: Apakah itu Meditasi Saddharma Pundarika?

Jawab: Berdasarkan pada pelaksanaan dalam Saddharma Pundarika Sutra, bagi orang biasa dan mereka yang belum mencapai Pencerahan pada masa akhir dharma ini, terdapat dua ajaran yakni “Bibit Jurui” (Konsep Membuka dan Sejenis) dan “Bibit Sotai” (Membuka dan Lain Jenis) yang akan membimbing mereka masuk dalam Kendaraan Buddha (Buddhayana).

Pertanyaan: Apakah dasar dari makna ini ?

Jawab: Berdasarkan Saddharma Pundarika Sutra Bab.V “Perumpamaan Tanaman Obat” terdapat empat aksara yakni Shu (Bibit), So (Wajah), Tai (Badan) dan Sho (Sifat). “Bibit Jurui” dan “Bibit Sotai” didasarkan pada aksara pertama dari Empat Aksara tersebut; Shu (Bibit), Bibit Kebuddhaan. Dalam Hokke Gengi menyatakan bahwa “Bibit Jurui”, adalah: “Segala sesuatu yang memiliki jiwa mempunyai Bibit KeBuddhaan. Jika dengan sepenuh hati mendengar meskipun sebait atau sepatah kalimat dari Sutra, maka segera akan menyadari bahwa semuanya mempunyai Bibit KeBuddhaan. Sekiranya seseorang dengan tangan anjali dan memuja serta berdoa kepada Buddha, maka orang ini akan segera menuju arah KeBuddhaan.”Bibit Sotai” berarti: “membuka dan merubah Tiga Jalan Iblis dari Hawa Nafsu, Karma Buruk, dan Penderitaan ke jalan Tiga Kebajikan; Hosshin (Badan Dharma), Hannya (Kebijaksanaan) dan Gedatsu (Kesadaran) seketika.”

Kedua konsep ini, “Bibit Jurui” didasarkan pada Saddharma Pundarika Sutra, meskipun beberapa aspek masih berkaitan dengan berbagai sutra-sutra sebelum Saddharma Pundarika Sutra. Maha Guru Miao-le menjelaskan dalam Hokke Mongu bahwa, “Ajaran khusus hanya mempunyai Bibit Jurui tidak ada Bibit Sotai.” Ajaran khusus dalam penjelasan ini, tidak mengacu pada pengertian umum yang didasarkan pada Empat Ajaran, Zo (Tripitaka), Tsu (Umum), Betsu (Khusus), dan En (Sempurna), tetapi melainkan mengacu pada pengajaran sempurna yang sudah ada sebelum Saddharma Pundarika Sutra atau pengajaran sempurna yang diajar oleh guru-guru lain selain Maha Guru T’ien-t’ai. Meskipun dalam bagian teori atau bagian pertama dari Saddharma Pundarika Sutra, Bab II “Kebijaksanaan” menyebutkan membuka dan menemukan Bibit Jurui dari manusia dan mahluk surgawi. Ajaran ini dimulai dengan kalimat, “Orang yang menyumbang dan menghormati relik dari Sang Buddha.”, diikuti oleh 20  atau lebih baris kalimat yang menyatakan bahwa bahkan sebuah kebajikan kecil sekalipun akan mendorong kearah Penerangan untu membuka dan menemukan Bibit Jurui.

Pertanyaan: Bagaimana dengan membuka dan menemukan Bibit Sotai ?

Jawab : Dalam Maka Shikan dikatakan: “Apa yang dimaksud dengan telah mendengarkan ajaran sempurna? Ini berarti Badan Sementara ini langsung berubah menjadi Badan Kekal “Badan Dharma”, Hawa Nafsu langsung berubah menjadi Kebijaksanaan Tak Terbatas, dan Karma Buruk langsung menjadi Kesadaran. Kelihatannya terdiri atas tiga nama, tetapi hanya satu badan. Singkatnya, Tiga Aspek tersebut menjadi satu peristiwa. Dalam kenyataannya, sejak ke tiga konsep ini menjadi satu kesatuan, tidak terdapat perbedaan diantara mereka. Jika Badan Dharma ini menjadi wujud sebenarnya, maka Kebijaksanaan dan Kesadaran juga akan mengikutinya. Jika Kebijaksanaan menjadi suci dan bersih, maka akan diikuti oleh Badan Dharma dan Kesadaran. Jika ketika Kesadaran menjadi Bebas, maka dapat disimpulkan bahwa Badan Dharma dan Kebijaksanaan juga demikian. Dalam hal ini, kesatuan ini tidak hanya antara Tiga Badan dan Tiga Jalan Iblis, tetapi juga mencakupi seluruh gejala dan penomena yang ada. Oleh karena itu, seluruh fenomena saling berhubungan dengan Buddha Dharma, tidak ada sesuatu pun yang kurang. Hal ini yang dinamakan telah mendengar ajaran sempurna.” Keterangan ini memberikan panduan kita tentang membuka dan menemukan Bibit Sotai.

Pertanyaan: Apakah maksudnya ?

Jawab : Kutipan diatas dari Maka Shikan yang menyatakan bahwa “Hidup dan Mati” mengacu pada Pikiran dan Badan kita, yang mana menyebabkan penderitaan sebagai hasil dari karma masa lampau kita—secara terperinci digambarkan dalam Lima Unsur, Dua Belas Perasaan (Enam Panca Indera dan Aspek) dan Delapan Belas “Dunia” (Enam Panca Indera dan Enam Aspek ditambah Enam Kesadaran). “Hawa Nafsu” dapat dikategorikan sebagai “Tiga Ilusi / Kesesatan”: Kesesatan dari pandangan dan pikiran, Kesesatan yang bagaikan butir-butir pasir, dan Kesesatan kegelapan dasar pokok jiwa. “Karma Buruk” mengacu pada berbagai macam karma buruk seperti Lima Dosa Besar, Sepuluh Keburukan dan Empat Dosa Utama. Badan Dharma berarti mengacu pada Badan Buddha (Dharmakaya), Kebijaksanaan Tak Terbatas berarti Badan Kebajikan Buddha (Sambhogakaya), dan Kesadaran mengacu pada Badan Kesadaran dari Buddha (Nirmanakaya). Sejak masa lampau yang tak terbatas, kita telah terhubung dengan Tiga Jalan Sesat: Hawa Nafsu, Karma Buruk, dan Penderitaan. Beruntung, sebab kita telah bertemu dengan Saddharma Pundarika Sutra, kita dipastikan dapat merubah kesesatan dari Tiga Jalan Sesat tersebut menjadi Tiga Kebajikan; Badan Dharma, Kebijaksanaan, dan Kesadaran.

Pertanyaan: Hal ini sukar dimengerti, ini bagaikan mengeluarkan air dari kobaran api, atau dari dalam batu tumbuh bunga yang indah. Sudah menjadi hal yang umum dalam Buddhisme, bahwa sebuah akibat buruk akan timbul dari sebuah sebab buruk; sebagaimana sebuah barang yang bagus dihasilkan dari bahan yang bagus pula. Meskipun demikian, jika kita melihat dari mana kita berasal, secara jelas bahwa kita lahir dari percampuran dua tetes merah dan putih, sel telur dan sperma ibu ayah kita. Ini dapat dikatakan akar keburukan tidak dapat menghasilkan sebuah hal yang suci. Meskipun kita membersihkan diri dengan air dari samudera, tetap tidak akan bersih dan suci. Ketika kita melihat pikiran dan badan kita—bahwa akar pokok semua penderitaan—kita dapat dikatakan semua itu didasarkan pada Tiga Racun: Keserakahan, Kemarahan dan Kebodohan. Dengan kedua jalan ini, Hawa Nafsu dan Tiga Racun menghasilkan berbagai macam karma buruk, Jalan Karma ini menyebabkan kita terikat pada penderitaan Triloka dan Enam Dunia Buruk (Enam Dunia terendah dari Sepuluh Tingkat Dunia). Ini bagaikan seekor burung yang terperangkap dalam kurungan. Bagaimana mungkin ke Tiga Jalan, Hawa Nafsu, Karma Buruk, dan Penderitaan dapat berubah menjadi Tiga Kebajikan; Badan Dharma, Kebijaksanaan dan Kesadaran dari Badan Buddha? Ini seperti mengumpulkan kotoran tinja untuk dibuat seperti kayu cendana, bagaimana mungkin mengharapkan dapat mengeluarkan keharuman cendana darinya.

Jawab: Pertanyaanmu ini adalah hal yang wajar. Sangat sulit bagi saya untuk dapat menjawab secara memuaskan. Namun Bodhisattva Nagarjuna, pewaris ke-13 ajaran Sang Buddha, sebagaimana Maha Guru T’ien-t’ai yang dihormati sebagai pendiri ajaran, menyatakan satu aksara “Myo” dalam Daichido-ron: “Ini sama seperti seorang dokter terkenal dan alih yang meramu racun menjadi obat.” Apa yang dimaksud dengan “Racun” disini? Hal ini mengacu pada Tiga Jalan, itu adalah Hawa Nafsu, Karma Buruk dan Penderitaan kita. Kemudian apa yang dimaksud dengan “Obat”? Ini tidak lain berarti merubah Tiga Jalan Sesat menjadi Tiga Kebajikan. Maha Guru T’ien-t’ai dalam Hokke Gengi dikatakan: “Myo” dari Myoho Renge Kyo berarti ‘Gaib.” Dan dalam Maka Shikan, Beliau menyatakan: “Sekejap pikiran mengandung sepuluh dunia, semua tidak kurang dari 3.000 gejala keberadaan terkandung dalam sekejap pikiran, merupakan suatu hal yang mustahil memisahkan sekejap pikiran dari segala hal yang ada. Hubungan ini sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, seperti “Pikiran” yang jatuh dalam dunia yang tidak dapat dimengerti.” Mencapai KeBuddhaan dengan Badan Apa adanya sangat sulit dilukiskan. Sekarang, sekte Kegon dan Shingon telah mencuri konsep yang dibabarkan dalam Saddharma Pundarika Sutra dan menjadikan hal itu milik mereka sendiri. Mereka para pencuri yang ulung dan tersohor didunia ini.

Pertanyaan: Apakah mungkin bagi kita, umat awam pada masa akhir dharma ini, untuk menerima ajaran yang sulit ini ?

Jawab: Kelihatannya kamu tidak begitu yakin dengan apa yang telah aku katakan, maka ijinkan aku mengutip kalimat dari Daichido-ron Nagarjuna jilid 93: “Berbeda dengan pendapat umum bahwa seorang Arahat yang telah mampu mengendalikan semua hawa nafsunya tidak dapat mencapai KeBuddhaan, namun dalam kenyataannya dapat mencapai KeBuddhaan, semua ini hanya diketahui oleh Buddha. Hal ini menjadi bahan diskusi bagi para sarjana Buddhis; namun, ini semua tidak akan dapat dibuktikan hanya melalui sebuah polemik dan perdebatan. Diskusi tanpa hasil sepert ini tidak diperlukan. Kenyataan ini akan menjadi terbukti dengan sendirinya ketika seseorang mencapai KeBuddhaan. Mereka yang belum mencapai Jalan Penerangan tidak perlu berdebat perihal apakah seseorang itu telah mencapai KeBuddhaan atau tidak dan hanya percaya saja.” Ini berarti pengertian yang mendalam dari Saddharma Pundarika Sutra (Konsep Bibit Sotai dan segera mencapai Jalan KeBuddhaan) sangat sulit dimengerti bahkan oleh para Bodhisattva sebelum Saddharma Pundarika Sutra; mereka yang percaya akan ajaran khusus untuk mengatur dan membersihkan diri mereka dari Sebelas Bentuk Ketidak-tahuan; dan demikian juga para Maha Bodhisattva dari ajaran sempurna seperti Samantabhadra dan Manjusri; yang terkenal telah membebaskan diri mereka dari Empat Puluh Satu Ketidak-tahuan. Tidak perlu dilanjutkan lagi, hal ini sangat membingungkan dan tidak dimengerti oleh ke Tiga Kendaraan (Sravaka, Pratyekabuddha, dan Bodhisattva), mereka yang mengikatkan diri pada ajaran yang bersifat sementara seperti Hinayana dan Vaipulya, atau untuk mereka yang belum mencapai penerangan pada masa akhir dharma. Ini adalah pernyataan dari Nagarjuna.

Berdasarkan pada Daichido-ron, kita diingatkan kepada kutipan kalimat yang terdapat dalam Bab.II “Kebijaksanaan” Saddharma Pundarika Sutra yang berbunyi: “Hanya antara Buddha dan Buddha saja yang dapat mengerti.” Kutipan kalimat ini merupakan jalan keluar bagi Ke-dua Kendaraan (Sravaka dan Pratyekabuddha), mereka yang berpikir berdasarkan ajaran sebelum Saddharma Pundarika Sutra, harus mengalahkan kesesatan yang timbul dari pikiran dan pandangan yang salah,  menghancurkan sifat keras, dan memusnahkan badan dan kesadaran, dan akan dapat memasuki Jalan Penerangan karena kebajikan dari Saddharma Pundarika Sutra, yang mana dapat merubah Tiga Jalan Iblis; (Hawa Nafsu), Karma Buruk dan Penderitaan dengan seketika menjadi Tiga Kebajikan; Badan Dharma, Kebijaksanaan dan Kesadaran. Dengan demikian maka Kesadaran dapat dicapai oleh Ke-Dua Kendaraan tersebut. Hal ini menyebabkan baik bagi Bodhisattva maupun manusia biasa dapat mencapai Jalan Penerangan. Maha Guru T’ien-t’ai dalam Hokke Gengi dikatakan: “Ketika seseorang yang berada dalam Jalan Ke-Dua Kendaraan (Dwiyana) mencapai sebuah tingkat kondisi mental yang buruk dan phisik yang kelelahan karena segala keinginan, yang disebut sebagai “Racun”, telah dapat dipadamkan, kemudian dengan memasuki Penerangan yang didasarkan pada Saddharma Pundarika Sutra, maka “Racun” tersebut akan dirubah menjadi “Obat”. Ini adalah kesimpulan dari Nagarjuna. Nagarjuna “Daichido-ron” juga menyatakan,”Saddharma Pundarika  Sutra merupakan ajaran rahasia yang sesungguhnya; ajaran-ajaran lain selain sutra ini bukanlah ajaran rahasia.”

Pertanyaan: Apakah kebajikan yang ada, untuk kita yang tidak berpendidikan ini, mendengarkan pembabaran ajaran penting ini ?

Jawab: Dengan ini, kita baru dapat dikatakan telah benar-benar mendengarkan Saddharma Pundarika Sutra untuk pertama kalinya. Maha Guru Miao-le menyatakan dalam “Makashikan fugyo-den guketsu”: “Jika percaya bahwa Tiga Jalan Iblis dapat menjadi Tiga Kebajikan, kemudian  dengan ini menyebabkan kita dapat menyeberangi sungai antara hidup dan mati; manusia yang tersesat dalam kelahiran dan para Bodhisattva yang berusaha membebaskan diri mereka dari segala ilusi, apalagi kelahiran dalam Triloka dan Enam Dunia Rendah. Ketika kita, manusia yang belum mencapai Pencerahan pada masa akhir dharma ini, mendengarkan ajaran ini, kita tidak hanya dapat memperoleh Penerangan Agung, tetapi kedua orangtua kita juga mendapatkan kebajikan yang sama. Tanpa diragukan lagi, ini sungguh sebuah balas budi yang utama. Maafkan Aku, karena tidak dapat menjelaskan secara terperinci, karena Aku sedang kurang sehat, tetapi Aku berharap akan membahas hal ini lagi pada kesempatan lain.

Tanggal 28 Bulan kedua Tahun Kenji Ke-4

Kepada Tuan Toki

Nichiren (Tanda tangan)

About the Author

error: Sorry, Content is protected !! Contact Admin for Permition