Published On: Sat, Mar 5th, 2016

Bab 4 Pemahaman Melalui Kepercayaan “Saddharma Pundarika Sutra”

lotus sutra nichirenSeri Penjelasan Saddharma Pundarika Sutra
Oleh: Rev. Shokai Kanai
Sumber Acuan: Buku “The Lotus Sutra” By Senchu Murano
Diterjemahkan oleh: Sidin Ong,SE


BAB IV 
PEMAHAMAN MELALUI KEPERCAYAAN

RINGKASAN

Tidaklah cukup hanya sekedar mempertahankan suatu kepercayaan secara buta. Pemahaman membantu kepercayaan, dan pada saat yang sama kepercayaan dan pemahaman akan berkembang menjadi tindakan.

Ke-empat Shomon Agung atau Pendengar Hukum Buddhisme diliputi oleh kegembiraan yang luar biasa pada saat mendengar Dharma yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, dan setelah mengetahui bahwa Sariputra, salah satu rekan shomon mereka, dipastikan Kebuddhaannya di masa mendatang dengan gelar Buddha Cahaya Bunga dalam bab sebelumnya. Sehingga mereka berkomentar bahwa semua itu bagaikan mendapat harta karun yang tak ternilai tanpa perlu mencarinya. Kemudian mereka mengungkapkan perumpamaan tentang “Orang kaya dan Putranya yang miskin”.

Penjelasan

“Menyingkapkan bahu kanan mereka” (P.88, L.9):

Telah menjadi suatu kebiasaan di India untuk menyingkapkan bahu seseorang sebagai tanda hati yang tulus. Akibatnya, para bhiksu dan umat awam di Nichiren Shu mengenakan kesa dari bahu kiri mereka dan bukan dari sebelah kanan.

“Mengatupkan tangan mereka dengan sepenuh hati” (P.88, L.10):

Dalam Nichiren Shu, kita mengatupkan tangan kita dalam gassho dan menyebut Odaimoku atau Mantra Agung dari Saddharma Pundarika Sutra, “Namu Myôhô Renge Kyô”. “Namu” berarti Pengabdian, Cinta, Kepercayaan, dan Harapan. Oleh karena itu ketika kita menyebut Odaimoku, kita berjanji untuk mengabdikan diri kita kepada ajaran dari Saddharma Pundarika Sutra, mempercayai Buddha Abadi, menerima welas asih Sang Buddha, dan berharap agar doa kita terjawab.

“Kami telah memperoleh harta tak ternilai meski kami tidak mencarinya.” (P.89, L. 7):

Ini bukanlah berarti bahwa kita hanya perlu duduk dan menunggu harta muncul begitu saja. Seperti yang akan Anda lihat dalam perumpamaan berikut, sama seperti sang anak yang memperbaiki sikap mentalnya secara bertahap dalam jangka waktu 20 tahun, begitu pula kita harus berjuang untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Penerangan memang seharusnya tercapai dalam kekacauan kehidupan kita sehari-hari, bukan dalam pengasingan yang sepi. Marilah kita selalu mencoba memperbaiki diri kita, memberi contoh kepada anak-anak kita, cucu-cucu kita, dan masyarakat, selangkah demi selangkah.

PERUMPAMAAN TENTANG ORANG KAYA DAN PUTRANYA YANG MISKIN (P.89, L.9 – P.92, Baris terakhir):

Seorang anak laki-laki yang miskin melarikan diri dari ayahnya ketika ia masih amat muda. Ia tinggal di negeri lain selama bertahun-tahun. Ia berkelana ke seluruh penjuru, mencari makanan dan pakaian. Beberapa tahun kemudian ketika ia berkelana kesana kemari, ia kebetulan berjalan menuju negeri asalnya. Pada saat itu ayahnya tinggal di sebuah kota di daerah perbatasan. Ia telah berusaha dengan sia-sia mencari anaknya semenjak anaknya tersebut melarikan diri. Sang ayah sekarang telah menjadi amat kaya. Ia memiliki harta yang tak terukur banyaknya. Gudang-gudangnya penuh dengan emas, perak, koral, dan kristal. Ia mempunyai banyak pembantu, pedati, sapi, dan domba. Ia berurusan dengan banyak saudagar dan pelanggan.

Putranya yang miskin itu kebetulan tiba di kota dimana ayahnya tinggal. Sang ayah telah memikirkan tentang putranya semenjak pertama kali ia melarikan diri. Ia berpikir, “Aku sekarang tua dan jompo. Aku memiliki banyak harta, tetapi aku aku tidak memiliki putra lain selain yang telah pergi. Ketika aku mati, semua hartaku akan berceceran dan hilang. Itulah sebabnya, aku selalu berusaha mencari anakku.”

Pada saat itu, putranya yang miskin kebetulan berdiri di pintu gerbang rumah orang kaya tersebut. Ketika melihat orang kaya itu, putra yang miskin itu ketakutan dan berpikir, “Apakah ia seorang raja atau semacam raja? Ini bukanlah tempat dimana aku dengan mudah memperoleh pekerjaan untuk mendapat makanan dan pakaian. Jika aku tinggal lebih lama lagi, aku pasti akan dipaksa untuk bekerja.” Maka ia mencoba untuk lari.

Orang kaya itu dengan segera mengenalinya sebagai putranya. Ia begitu lega. Segera ia mengutus orang yang berdiri di sebelahnya untuk membawa kembali putranya. Utusan itu dengan segera berlari menuju putranya yang miskin dan menangkapnya. Putra yang miskin itu menjadi ketakutan dan beteriak, “Aku tidak melakukan kesalahan. Kenapa engkau menghentikanku?” Sang utusan menariknya secara paksa. Putra miskin itu berpikir, “Aku telah ditangkap meskipun aku tak bersalah. Aku akan dibunuh.” Akibat ketakutan yang semakin menjadi-jadi, ia pun pingsan dan terjatuh ke tanah.

Melihat semua ini dari kejauhan, Sang ayah berkata kepada utusannya, “Aku tidak menginginkannya lagi. Jangan membawanya secara paksa! Tuangkan air dingin ke wajahnya untuk membangunkannya!” Sang ayah berkata demikian karena menyadari bahwa putranya terlalu tidak pantas dan layak untuk bertemu dengan seorang yang terhormat. Ia tahu bahwa pria tersebut adalah putranya, tapi dengan suatu maksud ia menahan diri untuk tidak memberitahukan hal ini kepada orang lain. Terbangun, putra yang miskin itu berdiri dan pergi ke sebuah desa kaum miskin untuk mendapatkan makanan dan pakaian. Orang kaya itu mengirimkan  utusannya secara diam-diam. Ia berkata kepada dua orang yang kelihatan kumal, lemah, dan tidak bertata krama, “Pergi dan katakan dengan baik-baik kepada pria miskin itu bahwa ia diterima untuk bekerja disini dengan bayaran dua kali lipat perhari. Jika ia setuju, bawa ia kemari dan bekerjalah bersama-sama dengan kalian membersihkan debu dan kotoran.”

Putra yang miskin itu mengambil bayarannya di muka dan mulai bekerja membersihkan debu dan kotoran. Melihat hal tersebut, Sang ayah merasakan belas kasihan yang luar biasa dan melepaskan kalungnya, pakaiannya, serta perhiasan lainnya. Ia mengenakan pakaian kumal dan kotor, mendekati para pekerjanya dan berkata, “Kerjalah dengan sungguh-sungguh! Jangan malas!”

Melihat putranya yang miskin itu bekerja keras, sang ayah berkata kepadanya, “Jangan sungkan-sungkan untuk mengambil nampan, beras, garam, dan cuka – sebanyak yang kau suka! Buat dirimu senyaman mungkin.” Bertahun-tahun kemudian, orang kaya itu memberi pria miskin tersebut sebuah nama dan memanggilnya sebagai putranya. Ia begitu gembira karena diperlakukan sedemikian baiknya, akan tetapi ia tetap menganggap dirinya adalah pegawai rendahan. Beberapa tahun pun lewat lagi. Setelah itu sang ayah dan putranya saling mempercayai satu sama lainnya. Sekarang sang putra tidak lagi merasa sungkan memasuki rumah ayahnya, tetapi ia masih tetap tinggal di rumah lamanya.

Sekarang orang kaya tersebut jatuh sakit. Setelah sekian lamanya, sang ayah memperhatikan bahwa putranya telah menjadi jauh lebih tenang dan damai, bahwa ia punya keinginan untuk memperbaiki hidupnya, dan ia merasa malu atas pikiran bahwa ia dulunya merasa tidak pantas dan layak. Karena merasa waktu ajalnya telah tiba, ia meminta putranya untuk memanggil semua sanak saudaranya, raja, para menteri, dan seluruh anggota rumahnya.

Ketika mereka semua telah berkumpul, Ia pun berkata kepada mereka, “Tuan dan nyonya sekalian, inilah putaku, putraku yang sesungguhnya. Aku adalah ayahnya yang asli. Ia melarikan diri dariku ketika aku dulu tinggal di kota tertentu, dan berkelana dengan segala kesulitan selama lebih dari limapuluh tahun. Nama aslinya adalah ini. Semua hartaku sekarang menjadi miliknya.” Mendengar hal itu putra yang miskin menjadi amat gembira. Belum pernah ia merasa sedemikian bahagianya. Ia berpikir, ”Tidak pernah aku memimpikan akan memiliki semua harta ini untukku. Semua ini benar-benar di luar dugaanku.”

PENJELASAN:

1. Putra yang miskin: melambangkan umat manusia yang secara kejiwaan begitu miskinnya dibanding dengan Sang Buddha.

2. Negara asal : melambangkan jiwa agung alam semesta.

3. Orang Kaya : melambangkan Sang Buddha Abadi, asal muasal dari jiwa agung seluruh alam semesta.

4. Ia melarikan diri dari ayahnya: melambangkan perbuatan egois kita yang mengabaikan jiwa agung alam semesta.

5. Sang anak secara kebetulan tiba di rumah ayahnya: melambangkan bahwa kita secara tidak sadar mencari Sang Buddha Abadi.

6. Putra yang miskin ketakutan oleh ayahnya yang luar biasa: melambangkan bahwa kita kadang takut akan kebenaran sejati.

7. Upah dua kali lipat per hari: melambangkan bahwa pelaksanaan Saddharma Pundarika Sutra akan menerima kurnia baik jauh lebih banyak daripada melaksanakan ajaran lainnya.

8. Ia harus membersihkan debu dan kotoran : berarti bahwa kita harus membersihkan pikiran-pikiran kotor kita yang melekat pada diri kita dan benda.

9. Tinggal disini, bekerja keras, dan aku akan membayarmu lebih: melambangkan keselamatan yang dimulai dari tingkatan rendah akan naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi secara bertahap.

10. Mewarisi kekayaan ayahnya: melambangkan kesadaran kita akan jiwa agung alam semesta

Orang kaya tersebut adalah Buddha Abadi sedangkan putranya yang miskin adalah kita yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya kita adalah anak-anak Buddha. Kita sering meminta kepada Buddha, “Berikan aku ini! Berikan aku itu!”. Ini masih suatu tingkatan shomon yang rendah dan tidak layak. Melalui nasehat Sang Buddha, jika kita terus berusaha tanpa mengenal kata menyerah, meski akan butuh waktu yang lama, kita pasti akan menerima harta tak ternilai Kebuddhaan tanpa kita sangka. Gassho.

About the Author

error: Sorry, Content is protected !! Contact Admin for Permition