Published On: Sun, Mar 6th, 2016

Misi Damai di Chittagong

chittagong 1MISI DAMAI di CHITTAGONG

Mulai tanggal 12–19 pebruari, Buddhist NGO Network (BNN) yang mengorganisir perjalanan Perdamaian ke Chittagong Hill Tracts (CHT) di Bangladesh. Program ini dilaksanakan dibawah koordinasi dari BNN dan Jumma Net; sebuah Organisasi Non Pemerintah Jepang yang secara konsisten peduli terhadap kesejahteraan manusia, dan Tiga anggota komite BNN ikut serta dalam perjalanan ini (termasuk seorang petugas dari Departemen Misionaris Nichiren Shu Pusat). BNN didirikan pada tanggal 22 Januari 2003, dengan anggota 50 orang Buddhis dari 40 Sekte, termasuk didalamnya Japanese Buddhist NGOs. Nichiren Shu Pusat juga menyertakan dua orang anggota dalam komite perencanaan BNN.

Pada tanggal 26 Agustus 2003, para penyerang Bengali menyerang penduduk pribumi yang disebut Jumma, membakar lebih dari 400 rumah, memperkosa 10 orang wanita, dan membunuh beberapa orang. Dalam kejadian ini, empat kuil tradisional Buddhis hancur. Nichiren Shu International segera memberikan sumbangan sebesar 500.000 Yen untuk membangun kembali daerah ini melalui BNN, yang bekerjasama dengan Jumma Net,  mengumpulkan sumbangan sebesar 1.500.000 Yen. Latar belakang masalah ini sangat rumit. CHT adalah sebuah wilayah pegunungan, yang mencakup 10 persen wilayah negara, terletak di bagian tenggara Banglades. Sejak jaman dulu, orang-orang mongoloid yang disebut Jumma mendiami tempat ini, bercocok tanam dan bertani. Orang-orang Jumma mempunyai 13 kelompok suku seperti Chakma, Marma atau Tripura, dan semuanya berjumlah sekitar 600.000 jiwa.

chittagong 2Sebagaimana diketahui bahwa para Bengalis kebanyakan adalah kaum muslim, sedangkan mayoritas Jumma adalah Buddhis. Pada masa kolonial Inggris, para penduduk asli mendapatkan otoritas dan diperhatikan, namun sejak kemerdekaan tahun 1971 mereka terabaikan. Kemudian, hubungan diantara mereka menjadi buruk dan menjadi konflik bersenjata, sejak 25 tahun lalu. Apalagi pada tahun 1979, pemerintah melakukan kolonialisasi didaerah CHT, dan memindahkan orang-orang Bengali sejumlah 400.000 orang ke daerah tersebut. Ini membuat situasi semakin rumit dan parah. Setelah upaya perdamaian dilakukan lebih dari 10 kali, terakhir maka perjanjian perdamaian dengan nama “CHT Accord” ditanda tangani antara pemerintah dan beberapa kelompok yang disebut PCJSS (Parbattya Catgram Jana Samhsti Samiti). Melalui perjanjian ini, perbaikan terhadap segala kehancuran dimulai, lebih dari 2.000 tentara menyerah kepada pemerintah, dan mereka sungguh mengharapkan perdamaian. Namun, disisi pemerintah belum menyelesaikan persoalan antara para pendatang Bengali dan penduduk setempat Jumma.

Kebetulan, pada tanggal 13 pebruari, 13 anggota Misi Perdamaian masuk ke propinsi Khagrachari. Melalui kerjasama dengan Parbatya Bouddha Mission (PBM), mereka mengunjungi Mahalchari dan Lemuchari dimana terdapat sebuah kuil Buddha bersejarah yang musnah terbakar habis dalam kerusuhan. Di perkampungan Lemuchari, sebuah kuil tua yang digunakan sebagai pusat berkumpul para penduduk juga dibinasakan, dengan menghancurkan kepala rupang Buddha dan membuangnya ke sungai. Sementara itu, Misi Damai juga mngunjungi para penetap dari kaum Bengali diarea konflik, dan mereka juga menjadi korban setelah dipaksa pindah dari berbagai daerah dan tidak mendapatkan tempat untuk hidup. Separuh penduduk desa itu bergantung pada bantuan makanan dari pemerintah.

chittagong 3Pendudukan secara tidak sah terhadap tanah para penduduk Jumma tetap berlangsung dari hari ke hari, ini sangat mengkhawatirkan. Ven.Sumanalankar Mahathero, ketua PBM, yang sibuk melakukan kegiatan perdamaian dengan mendapatkan dukungan dari Jumma Net, Jepang, mengatakan, “Aku tidak tahu apakah aku masih hidup beberapa bulan mendatang.” Menanggapi segala permasalahan ini, UNDP (Program Pengembangan Perserikatan Bangsa-Bangsa) membuat sebuah proposal untuk melakukan pemindahan terhadap para pemukim Bengali, namun belum mendapatkan jawaban dari pemerintah. Banglades adalah salah satu negara penerima utama bantuan internasional yang mencakup Bantuan Pengembangan Pemerintah (ODA) dari Jepang. Oleh karena itu, kita berharap pemerintah Banglades akan lebih memperhatikan konsensus dan pendapat internasional dan menyelesaikan persoalan dalam negerinya. SELESAI.

(Oleh:Rev. Kanshin Mochida)

About the Author

error: Sorry, Content is protected !! Contact Admin for Permition